Saturday, March 20, 2010
AIR(BUKTI KEESAAN DAN KEBESARAN ALLAH PADA YANG MAHU BERFIKIR)
Maha suci Allah,bertapa saintifik nya AL-Quran ini,berfikirlah sejenak wahai ummat islam.mampukah kita memahami kejadian Alam ini tanpa bimbingan Al-Quran??jika tiada Al-quran,manusia hanya mampu berfikir pada satu tahap sahaja,kerana ilmu penciptaan alam tidak mampu dimiliki tanpa ada satu bentuk teori yang memberi idea untuk manusia berfikir,inilah Al-quran dikaji oleh barat,lalu digunakan sebagai asas untuk memahami alam ini.Kita haruslah membaca dan mengambil ikhtibar dari Al-quran.Baca,faham dan amalkanlah perintah Allah.walaupun kita tak mampu memahami bahasa arab,banyak tafsir-tafsir Al-quran dalam bahasa Melayu di pasaran,belilah dan bacalah,kita akan dapati keesaan Allah s.w.t.
Al Quran : (41) Fushshilat : Ayat 39
Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 41:39)
Al Quran : (16) An Nahl : Ayat 65
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (QS. 16:65)
Al Quran : (30) Ar Ruum : Ayat 24
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (QS. 30:24)
Al Quran : (21) Al Anbiyaa’ : Ayat 30
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. 21:30)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164)
Al Quran : (25) Al Furqaan : Ayat 49
agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. (QS. 25:49)
Al Quran : (45) Al Jaatsiyah : Ayat 5
dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. 45:5)
Al Quran : (29) Al ‘Ankabuut : Ayat 63
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS. 29:63)
Al Quran : (50) Qaaf : Ayat 11
untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (QS. 50:11)
Al Quran : (43) Az Zukhruf : Ayat 11
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (QS. 43:11)
Al Quran : (22) Al Hajj : Ayat 5
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. 22:5)
Al Quran : (41) Fushshilat : Ayat 39
Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 41:39)
Al Quran : (16) An Nahl : Ayat 65
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (QS. 16:65)
Al Quran : (30) Ar Ruum : Ayat 24
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (QS. 30:24)
Al Quran : (21) Al Anbiyaa’ : Ayat 30
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. 21:30)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164)
Al Quran : (25) Al Furqaan : Ayat 49
agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. (QS. 25:49)
Al Quran : (45) Al Jaatsiyah : Ayat 5
dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. 45:5)
Al Quran : (29) Al ‘Ankabuut : Ayat 63
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS. 29:63)
Al Quran : (50) Qaaf : Ayat 11
untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (QS. 50:11)
Al Quran : (43) Az Zukhruf : Ayat 11
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (QS. 43:11)
Al Quran : (22) Al Hajj : Ayat 5
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. 22:5)
Friday, March 19, 2010
TUDUHAN LIWAT,ZINA,BUNUH
Menuduh orang-orang yang bersih dengan tohmahan-tohmahan, terutama tohmahan-tohmahan yang besar seperti berzina, liwat dan membunuh merupakan satu perbuatan yang diharamkan secara tegas oleh Islam. Bahkan ia termasuk dalam dosa-dosa besar yang boleh mendatangkan kemurkaan Allah dan azab-Nya.
Sebabnya, tohmahan-tohmahan seperti itu berupaya untuk menyerang kemuliaan diri orang-orang yang beriman sama ada lelaki atau perempuan. Ianya juga boleh menyebabkan orang ramai berburuk sangka terhadapnya… Perkara sedemikian juga menyebabkan tersebarnya kejahatan di kalangan orang-orang yang beriman. Oleh itu, al-Quran mengecam keras perilaku seperti ini dan mengancam para pendusta yang melakukannya dengan seksaan di dunia dan di akhirat.
Firman Allah s.w.t.: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Surah al-Ahzab 33:58)
Allah s.w.t. juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik yang lengah (iaitu tidak pernah terlintas untuk melakukan perbuatan yang keji) lagi beriman (dengan tuduhan zina), mereka terkena laknat di dunia dan di akhirat dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan tahulah mereka bahawa Allah lah yang Benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (Surah an-Nur 24: 23-25)
Para ulama telah sepakat (ijmak) mengatakan bahawa dosa dan hukuman terhadap orang yang melemparkan tuduhan ke atas lelaki mukmin adalah serupa dengan dosa dan hukuman terhadap mereka yang melemparkan tuduhan ke atas wanita mukminat.
Ayat di atas turun dalam bentuk seperti ini (menggunakan perkataan mukminat) kerana ayat tersebut diturunkan khas sebagai pembelaan terhadap Ummul Mukminin, Aishah As-Siddiqah binti Abu Bakar As-Siddiq. Beliau merupakan salah seorang isteri yang paling dicintai oleh Rasulullah s.a.w. selepas Khadijah, Peribadi yang suci ini terpaksa berhadapan dengan tuduhan yang keji.
Orang-orang munafik menyebarkan khabar angin tentangnya dan melemparkan tohmahan bahawa beliau telah melakukan skandal dengan salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang tidak pernah diragui kebersihan peribadinya. Orang-orang munafik benar-benar telah menggunakan peluang ini dengan mengobarkan api fitnah.
Demikianlah kisah yang berkaitan dengan “Hadith al-Ifki” atau “Insiden Fitnah” yang telah meresahkan rumah Nabi s.a.w., rumah Abu Bakar as-Siddiq serta seluruh bandar Madinah. Akhirnya turunlah ayat al-Quran bagi menerangkan perkara tersebut secara jelas dan tegas dan mengembalikan keadaan seperti sediakala. Ayat tersebut juga telah membisukan lidah para pendusta dan membersihkan kembali nama Aishah yang jujur dan suci daripada segala tuduhan jahat. Selepas turunnya ayat-ayat tersebut, kaum Muslimin pun merasa lega kerana telah terkeluar daripada fitnah yang keras dan pahit itu.
Bacalah firman Allah s.w.t. dalam surah an-Nur: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah daripada golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira bahawa berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.’ Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh kerana mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (Surah an-Nur 24:11-13)
Inilah hukum Allah yang tegas: sesiapa yang menuduh orang lain telah melakukan perbuatan keji seperti berzina (atau liwat) maka dia mesti mengukuhkan tuduhannya itu dengan mendatangkan empat orang saksi yang adil dan tidak cacat keperibadiannya. Kesemua saksi itu mestilah telah melihat yang tertuduh sedang melakukan perbuatan zina (liwat) secara jelas dengan mata kepala mereka sendiri… Jika orang yang menuduh tidak berjaya mendatangkan empat saksi, maka dia dianggap sebagai seorang pendusta di sisi Allah s.w.t. Allah menegaskan bahawa si pendusta ini mesti dikenakan hukuman syariah, bahkan dia terkena tiga jenis hukuman yang tertera al-Quran al-Karim, berdasarkanhukuman yang tertera al-Quran al-Karim, berdasarkan
Firman Allah s.w.t. “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka sebatlah mereka (yang menuduh itu) dengan 80 kali sebatan, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Surah an-Nur 24:4, 5
Ayat-ayat yang mulia di atas menyebutkan tiga jenis hukuman terhadap jenayah yang keji itu:
PERTAMA: Hukuman fizikal, iaitu disebat sebanyak lapan puluh sebatan. Sebatan yang menyakitkan tubuh badannya itu merupakan balasan terhadap perbuatannya menyakiti peribadi orang-orang yang baik. Tuduhan yang telah disebarkannya itu juga boleh memusnahkan kehidupan orang-orang yang dituduh berserta kaum keluarganya.
KEDUA: Hukuman moral dan sosial, iaitu dengan menggugurkan segala pertimbangan moral dan sosial orang yang menuduh itu. Kesaksiannya dalam urusan kewangan, sivil, sosial, politik tidak boleh diterima pakai. Ia mencakupi seluruh jenis kesaksian…..
KETIGA: Hukuman agama, iaitu dengan menggelarnya sebagai orang yang fasik dan memasukkannya ke dalam golongan ‘fasiqun’. Al-Quran menyebutkan kefasikan sebagai lawan daripada keimanan.
Allah s.w.t. berfirman: “Maka adakah orang-orang yang beriman serupa dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, maka bagi mereka syurga-syurga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka ialah neraka.” (as-Sajdah 32: 18-20)
Walau bagaimana pun, dengan rahmat dan kasihnya Allah masih lagi membuka pintu taubat bagi mereka yang ingin menyucikan dan membersihkan diri.
Firman Allah: “Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah an-Nur 24: 5)
Imam Abu Hanifah berpendapat bahawa taubat hanya diperkenankan bagi memansuhkan hukuman terakhir, iaitu penggelaran dirinya sebagai fasik. Taubat tidak memansuhkan hukum gugurnya kesaksian dari pihaknya. Sebab perkara ‘gugurnya kesaksian’ dalam ayat di atas disifatkan Allah sebagai kekal, “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya”.
Jenayah melemparkan tohmahan itu boleh menjadi lebih besar jika orang yang dituduh dikenali oleh khalayak ramai sebagai orang yang istiqamah dan salih. Mereka mengenalnya sebagai orang yang baik dan tidak pernah menyaksikan sebarang kejahatan dilakukannya. Sesungguhnya suara orang ramai merupakan pena-pena kebenaran. Kesaksian yang boleh dipertimbangkan hanyalah kesaksian orang-orang yang salih dan baik.
Pandangan dan sikap Islam dalam menjaga maruah, kemuliaan dan kehormatan diri seseorang amat tegas dan keras. Islam tidak membenarkan seorang Muslim menyakiti perasaan seorang saudaranya sesama Muslim dengan perkataan menghina, sama ada di hadapannya atau di belakangnya.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari kebanyakan dari syak wasangka, sesungguhnya sebahagian daripada syak wasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Surah al-Hujurat 48: 12)
Dalam satu hadis sahih, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap Muslim diharamkan untuk mencerobohi darah, harta dan maruah saudaranya sesama Muslim.”
Jika Islam tidak menentukan sikap yang tegas seperti ini tentu akan terjadi perbalahan di antara selurah manusia, manakala kemuliaan serta maruah diri mereka akan ditindas. Akhirnya musnahlah seluruh hak dan kebebasan.
Bertolak atas kesedaran ini pula Islam memerintahkan kita untuk tidak menceritakan aib orang lain demi menjaga maruah dan peribadinya. Rasulullah s.a.w. telah bersabda kepada seseorang yang menggesa Ma’iz untuk mengaku berzina sehingga dijatuhkan hukuman rejam, “Jika engkau tutupinya dengan bajumu tentu lebih baik untukmu”. Rasulullah juga bersabda: “Seluruh umatku akan memperoleh pengampunan, kecuali orang-orang yang suka menyebarkan aib orang lain.” Dan baginda bersabda: “Sesiapa yang menutupi kesalahan seorang Muslim nescaya Allah akan menutupi (kesalahannya) di dunia dan akhirat.”
Allah s.w.t. juga berfirman dalam al-Quran al-Karim: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”(Surah an-Nur 24: 19)
Sebabnya, tohmahan-tohmahan seperti itu berupaya untuk menyerang kemuliaan diri orang-orang yang beriman sama ada lelaki atau perempuan. Ianya juga boleh menyebabkan orang ramai berburuk sangka terhadapnya… Perkara sedemikian juga menyebabkan tersebarnya kejahatan di kalangan orang-orang yang beriman. Oleh itu, al-Quran mengecam keras perilaku seperti ini dan mengancam para pendusta yang melakukannya dengan seksaan di dunia dan di akhirat.
Firman Allah s.w.t.: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Surah al-Ahzab 33:58)
Allah s.w.t. juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik yang lengah (iaitu tidak pernah terlintas untuk melakukan perbuatan yang keji) lagi beriman (dengan tuduhan zina), mereka terkena laknat di dunia dan di akhirat dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan tahulah mereka bahawa Allah lah yang Benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (Surah an-Nur 24: 23-25)
Para ulama telah sepakat (ijmak) mengatakan bahawa dosa dan hukuman terhadap orang yang melemparkan tuduhan ke atas lelaki mukmin adalah serupa dengan dosa dan hukuman terhadap mereka yang melemparkan tuduhan ke atas wanita mukminat.
Ayat di atas turun dalam bentuk seperti ini (menggunakan perkataan mukminat) kerana ayat tersebut diturunkan khas sebagai pembelaan terhadap Ummul Mukminin, Aishah As-Siddiqah binti Abu Bakar As-Siddiq. Beliau merupakan salah seorang isteri yang paling dicintai oleh Rasulullah s.a.w. selepas Khadijah, Peribadi yang suci ini terpaksa berhadapan dengan tuduhan yang keji.
Orang-orang munafik menyebarkan khabar angin tentangnya dan melemparkan tohmahan bahawa beliau telah melakukan skandal dengan salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang tidak pernah diragui kebersihan peribadinya. Orang-orang munafik benar-benar telah menggunakan peluang ini dengan mengobarkan api fitnah.
Demikianlah kisah yang berkaitan dengan “Hadith al-Ifki” atau “Insiden Fitnah” yang telah meresahkan rumah Nabi s.a.w., rumah Abu Bakar as-Siddiq serta seluruh bandar Madinah. Akhirnya turunlah ayat al-Quran bagi menerangkan perkara tersebut secara jelas dan tegas dan mengembalikan keadaan seperti sediakala. Ayat tersebut juga telah membisukan lidah para pendusta dan membersihkan kembali nama Aishah yang jujur dan suci daripada segala tuduhan jahat. Selepas turunnya ayat-ayat tersebut, kaum Muslimin pun merasa lega kerana telah terkeluar daripada fitnah yang keras dan pahit itu.
Bacalah firman Allah s.w.t. dalam surah an-Nur: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah daripada golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira bahawa berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.’ Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh kerana mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (Surah an-Nur 24:11-13)
Inilah hukum Allah yang tegas: sesiapa yang menuduh orang lain telah melakukan perbuatan keji seperti berzina (atau liwat) maka dia mesti mengukuhkan tuduhannya itu dengan mendatangkan empat orang saksi yang adil dan tidak cacat keperibadiannya. Kesemua saksi itu mestilah telah melihat yang tertuduh sedang melakukan perbuatan zina (liwat) secara jelas dengan mata kepala mereka sendiri… Jika orang yang menuduh tidak berjaya mendatangkan empat saksi, maka dia dianggap sebagai seorang pendusta di sisi Allah s.w.t. Allah menegaskan bahawa si pendusta ini mesti dikenakan hukuman syariah, bahkan dia terkena tiga jenis hukuman yang tertera al-Quran al-Karim, berdasarkanhukuman yang tertera al-Quran al-Karim, berdasarkan
Firman Allah s.w.t. “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka sebatlah mereka (yang menuduh itu) dengan 80 kali sebatan, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Surah an-Nur 24:4, 5
Ayat-ayat yang mulia di atas menyebutkan tiga jenis hukuman terhadap jenayah yang keji itu:
PERTAMA: Hukuman fizikal, iaitu disebat sebanyak lapan puluh sebatan. Sebatan yang menyakitkan tubuh badannya itu merupakan balasan terhadap perbuatannya menyakiti peribadi orang-orang yang baik. Tuduhan yang telah disebarkannya itu juga boleh memusnahkan kehidupan orang-orang yang dituduh berserta kaum keluarganya.
KEDUA: Hukuman moral dan sosial, iaitu dengan menggugurkan segala pertimbangan moral dan sosial orang yang menuduh itu. Kesaksiannya dalam urusan kewangan, sivil, sosial, politik tidak boleh diterima pakai. Ia mencakupi seluruh jenis kesaksian…..
KETIGA: Hukuman agama, iaitu dengan menggelarnya sebagai orang yang fasik dan memasukkannya ke dalam golongan ‘fasiqun’. Al-Quran menyebutkan kefasikan sebagai lawan daripada keimanan.
Allah s.w.t. berfirman: “Maka adakah orang-orang yang beriman serupa dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, maka bagi mereka syurga-syurga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka ialah neraka.” (as-Sajdah 32: 18-20)
Walau bagaimana pun, dengan rahmat dan kasihnya Allah masih lagi membuka pintu taubat bagi mereka yang ingin menyucikan dan membersihkan diri.
Firman Allah: “Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah an-Nur 24: 5)
Imam Abu Hanifah berpendapat bahawa taubat hanya diperkenankan bagi memansuhkan hukuman terakhir, iaitu penggelaran dirinya sebagai fasik. Taubat tidak memansuhkan hukum gugurnya kesaksian dari pihaknya. Sebab perkara ‘gugurnya kesaksian’ dalam ayat di atas disifatkan Allah sebagai kekal, “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya”.
Jenayah melemparkan tohmahan itu boleh menjadi lebih besar jika orang yang dituduh dikenali oleh khalayak ramai sebagai orang yang istiqamah dan salih. Mereka mengenalnya sebagai orang yang baik dan tidak pernah menyaksikan sebarang kejahatan dilakukannya. Sesungguhnya suara orang ramai merupakan pena-pena kebenaran. Kesaksian yang boleh dipertimbangkan hanyalah kesaksian orang-orang yang salih dan baik.
Pandangan dan sikap Islam dalam menjaga maruah, kemuliaan dan kehormatan diri seseorang amat tegas dan keras. Islam tidak membenarkan seorang Muslim menyakiti perasaan seorang saudaranya sesama Muslim dengan perkataan menghina, sama ada di hadapannya atau di belakangnya.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari kebanyakan dari syak wasangka, sesungguhnya sebahagian daripada syak wasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Surah al-Hujurat 48: 12)
Dalam satu hadis sahih, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap Muslim diharamkan untuk mencerobohi darah, harta dan maruah saudaranya sesama Muslim.”
Jika Islam tidak menentukan sikap yang tegas seperti ini tentu akan terjadi perbalahan di antara selurah manusia, manakala kemuliaan serta maruah diri mereka akan ditindas. Akhirnya musnahlah seluruh hak dan kebebasan.
Bertolak atas kesedaran ini pula Islam memerintahkan kita untuk tidak menceritakan aib orang lain demi menjaga maruah dan peribadinya. Rasulullah s.a.w. telah bersabda kepada seseorang yang menggesa Ma’iz untuk mengaku berzina sehingga dijatuhkan hukuman rejam, “Jika engkau tutupinya dengan bajumu tentu lebih baik untukmu”. Rasulullah juga bersabda: “Seluruh umatku akan memperoleh pengampunan, kecuali orang-orang yang suka menyebarkan aib orang lain.” Dan baginda bersabda: “Sesiapa yang menutupi kesalahan seorang Muslim nescaya Allah akan menutupi (kesalahannya) di dunia dan akhirat.”
Allah s.w.t. juga berfirman dalam al-Quran al-Karim: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”(Surah an-Nur 24: 19)
Thursday, March 18, 2010
MENDAPAT SOLAT YANG KHUSYUK
Antara ibadah yang penting yang wajib dilakukan ialah solat. Ia amat penting sehinggakan ketika sedang berperang sekalipun solat tidak boleh ditinggalkan. Solat juga merupakan tiang agama. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan, nabi bersabda, “Solat itu tiang agama sesiapa yang meninggalkannya dia meruntuhkan agama.”
Dalam surah Al-Mukminun ayat 1, 2 dan 9 Allah menjelaskan, “Sesungguhnya telah berjayalah orang-orang yang beriman. (Iaitu) mereka yang khusyuk dalam solat mereka…. Dan mereka yang memelihara solat-solat mereka.”
Justeru, untuk berjaya umat Islam tidak boleh mengabaikan solat sama sekali terutamanya solat-solat fardu. Dalam konteks melaksanakan solat, dua perkara wajib dijaga, pertamanya khusyuk dan keduanya memastikan agar solat dilaksanakan secara berterusan mengikut cara dan jadual waktu yang telah ditetapkan.
Kesesatan Kerana Memperkecilkan Solat
Golongan yang memperkecilkan solat merupakan golongan yang sesat. Dalam surah Maryam ayat 59 Allah berfirman, “Maka datanglah selepas mereka pengganti (yang keji) yang mensia-siakan solat mereka serta mengikut hawa nafsu, maka kelak mereka akan menemui kesesatan..” Berhubung dengan ayat ini, sahabat Abdullah ibn Abbas berkata, “Maksud ‘mensia-siakan solat’ bukanlah meninggalkan solat sama sekali, tetapi melewatkannya dari waktunya”. Imam Said ibn Al-Musayyab mempunyai pendapat yang sama dengan sahabat Abdullah ibn Abbas. Beliau berkata, “Mereka melaksanakan solat zuhur dalam waktu asar, solat asar dalam waktu maghrib, solat maghrib dalam waktu isyak, solat isyak ditangguhkan sehingga masuk waktu subuh dan solat subuh dilaksanakan selepas matahari terbit. Sesiapa yang mati dalam keadaan ini tanpa bertaubat, dia akan dihumban masuk ke dalam sebuah lembah yang bernama ghay di dalam neraka dan diberikan makanan yang teramat jijik..” Hal ini disebutkan dalam Al-Asas fit Tafsir oleh Said Hawa.
Justeru melaksanakan solat fardu dalam waktu yang ditetapkan merupakan sebahagian daripada disiplin Islam yang wajib dilaksanakan. Mengikut Imam Bukhari dan Muslim, sahabat Abdullah ibn Masud pernah bertanya kepada nabi, “Apakah amalan yang paling Allah sukai?” Baginda menjawab, “Solat tepat pada waktunya.” Abdullah ibn Masud bertanya lagi, “Kemudian apa?” Baginda menjawab, “Melakukan kebaikan kepada kedua-dua ibu bapa.” Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa?” Nabi menjawab, “Jihad kerana agama Allah.”
Apakah Maksud Khusyuk?
Solat tidak akan berkesan tanpa khusyuk. Mengikut Imam Al-Hakim dan Tirmizi, pada suatu ketika nabi ternampak seorang lelaki menyapu janggutnya ketika solat maka baginda pun bersabda, “Jika khusyuk hati lelaki ini akan tenanglah anggota badannya.” Berkata Imam Al-Alusi, “Khusyuk ialah merendahkan diri dengan perasaan takut di samping tenang anggota badan.” Ibn Jarir meriwayatkan bahawa sahabat Abdullah ibn Abbas berkata, “Mereka yang khusyuk ialah mereka yang takut lagi tenang.” Sahabat Ali bin Abi Talib berkata, “(Khusyuk) tempatnya ialah di hati.” Imam Hasan Al-Basri pula berkata, “Tempat bagi khusyuk ialah di hati dan kemudiannya ia mempengaruhi dan mengawal pandangan mata serta menenangkan anggota badan.” Pandangan yang agak merangkumi tentang khusyuk ialah pandangan sahabat Abu Darda’. Beliau berkata, “(Khusyuk) ialah pengagungan terhadap Tuhan, keikhlasan dalam perkataan, kesempurnaan dalam keyakinan, memberikan sepenuh perhatian dan tidak berpaling ke kiri dan kanan kerana ia adalah dari syaitan.” Kesemua pendapat ini disebutkan dalam Al-Asas fit Tafsir oleh Said Hawa.
Justeru khusyuk di dalam solat adalah penting. Namun khusyuk perlu diamalkan tidak hanya di dalam solat. Ia perlu diaplikasikan dalam setiap ibadah yang kita lakukan agar kesannya lebih positif. Di akhir zaman khusyuk akan lenyap dari hati-hati manusia digantikan dengan kealpaan dan kelalaian. Mengikut Imam Al-Hakim, sahabat Ubadah bin Samit berkata, “Tidak berapa lama lagi akan sampai satu zaman apabila kamu memasuki masjid kamu tidak akan menemui lagi lelaki yang khusyuk.” Ibn Abi Syaibah, Ahmad dan Al-Hakim meriwayatkan, sahabat Huzaifah bin Yaman berkata, “Perkara pertama yang akan luput dari agamamu ialah khusyuk dan akhirnya yang akan luput darimu ialah solat. Ikatan Islam akan terungkai satu demi satu.”
Cara Untuk Khusyuk
Asas kepada khusyuk ialah kebersihan hati. Justeru, untuk khusyuk penekanan perlu diberikan kepada ibadah hati tanpa mengabaikan rukun-rukun yang berkaitan dengan anggota badan. Unsur-unsur ibadah hati yang ditekankan ada enam.. Keenam-enam itu, mengikut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ialah, “Kehadiran hati, pemahaman, pengagungan, merasai kehebatan, harap dan malu.” Kehadiran hati bermaksud, hati tidak menerawang memikirkan perkara yang lain daripada solat. Pemahaman bermaksud, memahami segala perkataan yang dilafazkan di dalam solat. Pengagungan dan merasai kehebatan bermaksud, berasa takut terhadap Allah hasil daripada kefahaman berhubung keagungan dan kebesaran Ilahi. Harap bermaksud, mengharapkan pahala daripada Allah kerana Dialah saja tempat pergantungan bagi manusia. Malu bermaksud, berasa malu dengan ibadah yang telah dilakukan kerana pastinya terdapat kekurangan padanya.
Untuk membantu kekhusyukan hati, beberapa pengaruh luaran perlu dikawal dan dijaga. Antaranya, jika seseorang berasa lapar hendaklah beliau menjamah makanan terlebih dahulu sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bermaksud, “Apabila datang makanan malam dan iqamat untuk solat telah dilaungkan, mulailah dengan mengambil makanan malam terlebih dahulu.” Demikian jugalah kiasannya dengan membuang air besar dan kecil dan yang seumpamanya.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin dalam bab Rahsia Solat Dan Kepentingannya, Imam Al-Ghazali berkata, “Pengaruh luar merupakan sesuatu yang boleh memberi kesan kepada pendengaran dan penglihatan sekali gus mengganggu kekhusyukan seseorang. Ubatnya ialah memisahkan dan menjauhkan diri dari kesemua pengaruh itu. Antara perkara yang boleh dilakukan ialah tidak melaksanakan solat di tempat yang dipenuhi ukiran kesenian dan tidak melaksanakan solat di atas sejadah yang mempunyai celupan warna yang menarik (serta gambar-gambar). Ketika hendak bertakbiratul ihram hendaklah dikeluarkan dari hatinya segala perkara yang boleh mengganggu jiwanya, dan dimasukkan ke dalam hati itu ingatan kepada akhirat dan dibayangkan kepadanya keadaan huru-hara ketika berdepan dengan Allah pada suatu hari nanti… Walau bagaimanapun hawa nafsu memang susah hendak dikawal. Manusia akan terus bermain tarik tali dengan hawa nafsunya. Manusia yang memang mencintai dunia dan condong kepadanya tidak boleh mengharapkan kelazatan bermunajat di dalam solat. Justeru mujahadah hendaklah dilakukan dan ini merupakan satu ubat yang pahit. Cita-cita duniawi dan cita-cita ukhrawi yang terdapat di dalam hati boleh diumpamakan seperti satu gelas yang dipenuhi air dan cuka. Seberapa banyak air yang dapat dimasukkan ke dalam gelas itu akan mengeluarkan jumlah yang sama daripada cuka. Kedua-duanya tidak boleh berkumpul menjadi satu. ”
Benarlah Imam Al-Hasan ketika beliau berkata, “Mereka yang tidak menghadirkan hati ketika melakukan solat, solat mereka akan mencepatkan mereka kepada seksaan Allah”.
Faedah-Faedah Solat
Solat yang dilakukan akan menggugurkan dosa seseorang. Imam Muslim meriwayatkan, nabi bersabda, “Solat yang lima menghilangkan dosa sebagaimana air menghilangkan daki.” Dalam riwayat yang lain oleh Imam Muslim, nabi bersabda, “Solat menghapuskan dosa yang berlaku di antara satu solat dengan satu yang lain melainkan dosa-dosa besar.”
Solat membina jati diri seseorang. Imam Abu Al-Aliyah berkata, “Solat mempunyai tiga keistimewaan, dan jika tidak ada ketiga-tiga ini di dalam sesuatu solat, solat itu dianggap tidak berfaedah sama sekali. Keistimewaan-keistimewaan itu ialah ikhlas, khusyuk dan zikrullah. Ikhlas akan membawa seseorang kepada yang makruf, khusyuk akan mencegahnya dari perbuatan mungkar dan zikrullah akan membantunya melakukan yang makruf dan mencegahnya dari yang mungkar”. Hal ini disebutkan di dalam Tafsir Al-Azhar oleh Hamka.
Di samping itu, solat menguatkan jiwa seseorang sehingga memampukannya meninggalkan kekejian dan kemungkaran. Dalam surah Al-Ankabut ayat 45, Allah berfirman, “Sesungguhnya solat dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.” Apabila peribadi unggul seperti ini dapat dibentuk melalui solat, keluarga dan masyarakat akan menjadi aman dan selamat.
Solat mendidik umat Islam menjadi pengurus masa yang baik. Dalam surah An-Nisak ayat 103, Allah berfirman, “Sesungguhnya solat adalah satu ketetapan berwaktu yang diwajibkan ke atas orang-orang mukmin.” Oleh kerana solat fardu yang lima terikat dengan waktu, mereka yang bersolat perlu prihatin dan peka dengan waktu kerana solat yang dilakukan di luar waktu dengan sengaja dianggap sebagai tidak sah dan bakal mendatangkan dosa. Kepekaan kepada waktu ini jika diperkembangkan kepada seluruh kehidupan akan menjadikan umat Islam satu golongan yang menghargai masa. Golongan yang menghargai masa pasti akan cemerlang.
Solat juga membentuk disiplin. Di antara perkara yang wajib dilaksanakan sebelum bersolat ialah mengambil wuduk, dan wuduk tidak dianggap sah melainkan dengan tertib. Tertib bermaksud, yang dahulu didahulukan dan yang kemudian dikemudiankan. Demikian juga ketika bersolat, tertib wajib dipelihara.. Jika seseorang mendahulukan amalan yang sepatutnya dikemudiankan, sebagai contoh, melakukan sujud sebelum qiam dan takbiratul ihram, solatnya dianggap tidak sah. Latihan-latihan seperti ini mampu melahirkan insan yang celik prosedur lagi berdisiplin sekali gus menjadikannya efisien dalam setiap pekerjaan.
Solat mendidik umat Islam agar mementingkan ilmu. Hal ini disebabkan ketika melaksanakan solat berjemaah, imam yang memimpin solat hendaklah dipilih dari kalangan mereka yang berilmu. Mengikut Imam Muslim dan Ahmad, nabi bersabda, “Hendaklah yang mengimami sesuatu kaum itu mereka yang lebih tahu tentang Al-Quran. Jika kemampuan mereka sama di sudut ini, pilihlah dari kalangan yang lebih memahami sunah..” Makmum yang berada di belakang imam juga perlu menguasai ilmu kerana kadangkala imam terlupakan sesuatu di dalam solatnya. Justeru, untuk membantu imam, Islam mengarahkan agar makmum yang berdiri hampir dengan imam adalah dari kalangan mereka yang berilmu. Mengikut Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi, nabi bersabda, “Hendaklah mereka yang pandai lagi baligh bersolat dekat denganku, kemudian mereka yang seumpama mereka, kemudian mereka yang seumpamanya..”
Tekanan jiwa atau stres sering melanda manusia dan solat mempunyai penawar yang mampu meredakannya. Hal ini disebabkan solat mengandungi zikir dan zikir jika dilakukan dengan khusyuk mampu mendamaikan hati. Dalam surah Taha ayat 14 Allah berfirman, “Dan tegakkanlah solat untuk berzikir kepadaku.” Oleh kerana solat benar-benar mendamaikan hati nabi pernah berkata, “Bangunlah wahai Bilal (untuk azan) dan rehatkanlah kami dengan solat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Justeru di sisi nabi, solat diumpamakan seperti kekasih hati. Dalam sebuah riwayat oleh Imam An-Nasai, nabi bersabda, “Dan dijadikan cahaya mataku pada solat.”
Dalam surah Al-Mukminun ayat 1, 2 dan 9 Allah menjelaskan, “Sesungguhnya telah berjayalah orang-orang yang beriman. (Iaitu) mereka yang khusyuk dalam solat mereka…. Dan mereka yang memelihara solat-solat mereka.”
Justeru, untuk berjaya umat Islam tidak boleh mengabaikan solat sama sekali terutamanya solat-solat fardu. Dalam konteks melaksanakan solat, dua perkara wajib dijaga, pertamanya khusyuk dan keduanya memastikan agar solat dilaksanakan secara berterusan mengikut cara dan jadual waktu yang telah ditetapkan.
Kesesatan Kerana Memperkecilkan Solat
Golongan yang memperkecilkan solat merupakan golongan yang sesat. Dalam surah Maryam ayat 59 Allah berfirman, “Maka datanglah selepas mereka pengganti (yang keji) yang mensia-siakan solat mereka serta mengikut hawa nafsu, maka kelak mereka akan menemui kesesatan..” Berhubung dengan ayat ini, sahabat Abdullah ibn Abbas berkata, “Maksud ‘mensia-siakan solat’ bukanlah meninggalkan solat sama sekali, tetapi melewatkannya dari waktunya”. Imam Said ibn Al-Musayyab mempunyai pendapat yang sama dengan sahabat Abdullah ibn Abbas. Beliau berkata, “Mereka melaksanakan solat zuhur dalam waktu asar, solat asar dalam waktu maghrib, solat maghrib dalam waktu isyak, solat isyak ditangguhkan sehingga masuk waktu subuh dan solat subuh dilaksanakan selepas matahari terbit. Sesiapa yang mati dalam keadaan ini tanpa bertaubat, dia akan dihumban masuk ke dalam sebuah lembah yang bernama ghay di dalam neraka dan diberikan makanan yang teramat jijik..” Hal ini disebutkan dalam Al-Asas fit Tafsir oleh Said Hawa.
Justeru melaksanakan solat fardu dalam waktu yang ditetapkan merupakan sebahagian daripada disiplin Islam yang wajib dilaksanakan. Mengikut Imam Bukhari dan Muslim, sahabat Abdullah ibn Masud pernah bertanya kepada nabi, “Apakah amalan yang paling Allah sukai?” Baginda menjawab, “Solat tepat pada waktunya.” Abdullah ibn Masud bertanya lagi, “Kemudian apa?” Baginda menjawab, “Melakukan kebaikan kepada kedua-dua ibu bapa.” Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa?” Nabi menjawab, “Jihad kerana agama Allah.”
Apakah Maksud Khusyuk?
Solat tidak akan berkesan tanpa khusyuk. Mengikut Imam Al-Hakim dan Tirmizi, pada suatu ketika nabi ternampak seorang lelaki menyapu janggutnya ketika solat maka baginda pun bersabda, “Jika khusyuk hati lelaki ini akan tenanglah anggota badannya.” Berkata Imam Al-Alusi, “Khusyuk ialah merendahkan diri dengan perasaan takut di samping tenang anggota badan.” Ibn Jarir meriwayatkan bahawa sahabat Abdullah ibn Abbas berkata, “Mereka yang khusyuk ialah mereka yang takut lagi tenang.” Sahabat Ali bin Abi Talib berkata, “(Khusyuk) tempatnya ialah di hati.” Imam Hasan Al-Basri pula berkata, “Tempat bagi khusyuk ialah di hati dan kemudiannya ia mempengaruhi dan mengawal pandangan mata serta menenangkan anggota badan.” Pandangan yang agak merangkumi tentang khusyuk ialah pandangan sahabat Abu Darda’. Beliau berkata, “(Khusyuk) ialah pengagungan terhadap Tuhan, keikhlasan dalam perkataan, kesempurnaan dalam keyakinan, memberikan sepenuh perhatian dan tidak berpaling ke kiri dan kanan kerana ia adalah dari syaitan.” Kesemua pendapat ini disebutkan dalam Al-Asas fit Tafsir oleh Said Hawa.
Justeru khusyuk di dalam solat adalah penting. Namun khusyuk perlu diamalkan tidak hanya di dalam solat. Ia perlu diaplikasikan dalam setiap ibadah yang kita lakukan agar kesannya lebih positif. Di akhir zaman khusyuk akan lenyap dari hati-hati manusia digantikan dengan kealpaan dan kelalaian. Mengikut Imam Al-Hakim, sahabat Ubadah bin Samit berkata, “Tidak berapa lama lagi akan sampai satu zaman apabila kamu memasuki masjid kamu tidak akan menemui lagi lelaki yang khusyuk.” Ibn Abi Syaibah, Ahmad dan Al-Hakim meriwayatkan, sahabat Huzaifah bin Yaman berkata, “Perkara pertama yang akan luput dari agamamu ialah khusyuk dan akhirnya yang akan luput darimu ialah solat. Ikatan Islam akan terungkai satu demi satu.”
Cara Untuk Khusyuk
Asas kepada khusyuk ialah kebersihan hati. Justeru, untuk khusyuk penekanan perlu diberikan kepada ibadah hati tanpa mengabaikan rukun-rukun yang berkaitan dengan anggota badan. Unsur-unsur ibadah hati yang ditekankan ada enam.. Keenam-enam itu, mengikut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ialah, “Kehadiran hati, pemahaman, pengagungan, merasai kehebatan, harap dan malu.” Kehadiran hati bermaksud, hati tidak menerawang memikirkan perkara yang lain daripada solat. Pemahaman bermaksud, memahami segala perkataan yang dilafazkan di dalam solat. Pengagungan dan merasai kehebatan bermaksud, berasa takut terhadap Allah hasil daripada kefahaman berhubung keagungan dan kebesaran Ilahi. Harap bermaksud, mengharapkan pahala daripada Allah kerana Dialah saja tempat pergantungan bagi manusia. Malu bermaksud, berasa malu dengan ibadah yang telah dilakukan kerana pastinya terdapat kekurangan padanya.
Untuk membantu kekhusyukan hati, beberapa pengaruh luaran perlu dikawal dan dijaga. Antaranya, jika seseorang berasa lapar hendaklah beliau menjamah makanan terlebih dahulu sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bermaksud, “Apabila datang makanan malam dan iqamat untuk solat telah dilaungkan, mulailah dengan mengambil makanan malam terlebih dahulu.” Demikian jugalah kiasannya dengan membuang air besar dan kecil dan yang seumpamanya.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin dalam bab Rahsia Solat Dan Kepentingannya, Imam Al-Ghazali berkata, “Pengaruh luar merupakan sesuatu yang boleh memberi kesan kepada pendengaran dan penglihatan sekali gus mengganggu kekhusyukan seseorang. Ubatnya ialah memisahkan dan menjauhkan diri dari kesemua pengaruh itu. Antara perkara yang boleh dilakukan ialah tidak melaksanakan solat di tempat yang dipenuhi ukiran kesenian dan tidak melaksanakan solat di atas sejadah yang mempunyai celupan warna yang menarik (serta gambar-gambar). Ketika hendak bertakbiratul ihram hendaklah dikeluarkan dari hatinya segala perkara yang boleh mengganggu jiwanya, dan dimasukkan ke dalam hati itu ingatan kepada akhirat dan dibayangkan kepadanya keadaan huru-hara ketika berdepan dengan Allah pada suatu hari nanti… Walau bagaimanapun hawa nafsu memang susah hendak dikawal. Manusia akan terus bermain tarik tali dengan hawa nafsunya. Manusia yang memang mencintai dunia dan condong kepadanya tidak boleh mengharapkan kelazatan bermunajat di dalam solat. Justeru mujahadah hendaklah dilakukan dan ini merupakan satu ubat yang pahit. Cita-cita duniawi dan cita-cita ukhrawi yang terdapat di dalam hati boleh diumpamakan seperti satu gelas yang dipenuhi air dan cuka. Seberapa banyak air yang dapat dimasukkan ke dalam gelas itu akan mengeluarkan jumlah yang sama daripada cuka. Kedua-duanya tidak boleh berkumpul menjadi satu. ”
Benarlah Imam Al-Hasan ketika beliau berkata, “Mereka yang tidak menghadirkan hati ketika melakukan solat, solat mereka akan mencepatkan mereka kepada seksaan Allah”.
Faedah-Faedah Solat
Solat yang dilakukan akan menggugurkan dosa seseorang. Imam Muslim meriwayatkan, nabi bersabda, “Solat yang lima menghilangkan dosa sebagaimana air menghilangkan daki.” Dalam riwayat yang lain oleh Imam Muslim, nabi bersabda, “Solat menghapuskan dosa yang berlaku di antara satu solat dengan satu yang lain melainkan dosa-dosa besar.”
Solat membina jati diri seseorang. Imam Abu Al-Aliyah berkata, “Solat mempunyai tiga keistimewaan, dan jika tidak ada ketiga-tiga ini di dalam sesuatu solat, solat itu dianggap tidak berfaedah sama sekali. Keistimewaan-keistimewaan itu ialah ikhlas, khusyuk dan zikrullah. Ikhlas akan membawa seseorang kepada yang makruf, khusyuk akan mencegahnya dari perbuatan mungkar dan zikrullah akan membantunya melakukan yang makruf dan mencegahnya dari yang mungkar”. Hal ini disebutkan di dalam Tafsir Al-Azhar oleh Hamka.
Di samping itu, solat menguatkan jiwa seseorang sehingga memampukannya meninggalkan kekejian dan kemungkaran. Dalam surah Al-Ankabut ayat 45, Allah berfirman, “Sesungguhnya solat dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.” Apabila peribadi unggul seperti ini dapat dibentuk melalui solat, keluarga dan masyarakat akan menjadi aman dan selamat.
Solat mendidik umat Islam menjadi pengurus masa yang baik. Dalam surah An-Nisak ayat 103, Allah berfirman, “Sesungguhnya solat adalah satu ketetapan berwaktu yang diwajibkan ke atas orang-orang mukmin.” Oleh kerana solat fardu yang lima terikat dengan waktu, mereka yang bersolat perlu prihatin dan peka dengan waktu kerana solat yang dilakukan di luar waktu dengan sengaja dianggap sebagai tidak sah dan bakal mendatangkan dosa. Kepekaan kepada waktu ini jika diperkembangkan kepada seluruh kehidupan akan menjadikan umat Islam satu golongan yang menghargai masa. Golongan yang menghargai masa pasti akan cemerlang.
Solat juga membentuk disiplin. Di antara perkara yang wajib dilaksanakan sebelum bersolat ialah mengambil wuduk, dan wuduk tidak dianggap sah melainkan dengan tertib. Tertib bermaksud, yang dahulu didahulukan dan yang kemudian dikemudiankan. Demikian juga ketika bersolat, tertib wajib dipelihara.. Jika seseorang mendahulukan amalan yang sepatutnya dikemudiankan, sebagai contoh, melakukan sujud sebelum qiam dan takbiratul ihram, solatnya dianggap tidak sah. Latihan-latihan seperti ini mampu melahirkan insan yang celik prosedur lagi berdisiplin sekali gus menjadikannya efisien dalam setiap pekerjaan.
Solat mendidik umat Islam agar mementingkan ilmu. Hal ini disebabkan ketika melaksanakan solat berjemaah, imam yang memimpin solat hendaklah dipilih dari kalangan mereka yang berilmu. Mengikut Imam Muslim dan Ahmad, nabi bersabda, “Hendaklah yang mengimami sesuatu kaum itu mereka yang lebih tahu tentang Al-Quran. Jika kemampuan mereka sama di sudut ini, pilihlah dari kalangan yang lebih memahami sunah..” Makmum yang berada di belakang imam juga perlu menguasai ilmu kerana kadangkala imam terlupakan sesuatu di dalam solatnya. Justeru, untuk membantu imam, Islam mengarahkan agar makmum yang berdiri hampir dengan imam adalah dari kalangan mereka yang berilmu. Mengikut Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi, nabi bersabda, “Hendaklah mereka yang pandai lagi baligh bersolat dekat denganku, kemudian mereka yang seumpama mereka, kemudian mereka yang seumpamanya..”
Tekanan jiwa atau stres sering melanda manusia dan solat mempunyai penawar yang mampu meredakannya. Hal ini disebabkan solat mengandungi zikir dan zikir jika dilakukan dengan khusyuk mampu mendamaikan hati. Dalam surah Taha ayat 14 Allah berfirman, “Dan tegakkanlah solat untuk berzikir kepadaku.” Oleh kerana solat benar-benar mendamaikan hati nabi pernah berkata, “Bangunlah wahai Bilal (untuk azan) dan rehatkanlah kami dengan solat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Justeru di sisi nabi, solat diumpamakan seperti kekasih hati. Dalam sebuah riwayat oleh Imam An-Nasai, nabi bersabda, “Dan dijadikan cahaya mataku pada solat.”
Solat Minta Hujan/Kesan istighfar
1.Dari Anas bin Malik r.a katanya:”Nabi s.a.w tidak pernah mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika berdoa, melainkan ketika berdoa minta hujan sehingga kelihatan putih ketiaknya.”
(Muslim)
2.Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang sentiasa beristighfar maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan itu ada jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada cara mengatasinya serta memberikan rezeki kepadanya daripada sumber yang tidak disangka-sangka.”
Riwayat Abu Daud
(Muslim)
2.Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang sentiasa beristighfar maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan itu ada jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada cara mengatasinya serta memberikan rezeki kepadanya daripada sumber yang tidak disangka-sangka.”
Riwayat Abu Daud
Wednesday, March 17, 2010
NERAKA BAGI PEMERINTAH YANG MENIPU RAKYAT
Hadis Ma'qil bin Yasar r.a:
Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang ditaklifkan oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, nescaya Allah mengharamkan ke atasnya Syurga
Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang ditaklifkan oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, nescaya Allah mengharamkan ke atasnya Syurga
PERBALAHAN MALAIKAT RAHMAT DAN MALAIKAT AZAB
Pada zaman dulu, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin menjumpai pendita untuk meminta fatwa supaya dia dapat bertaubat dari dosanya. Sebaik saja berjumpa, dia pun menerangkan bahawa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya sama ada dia masih ada peluang untuk bertaubat. Pendita dengan tegas mengatakan dia tidak boleh bertaubat kerana dosanya terlalu banyak. Lelaki itu mejadi marah dan terus membunuh pendita itu, menjadikannya mangsa yang ke-100.
Dia masih ingin untuk bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang boleh membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahawa dia telah membunuh 100 orang dan bertanya sama ada Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih ada harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan maksiat.
Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu terus menghala ke negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Sebaik saja sampai separuh perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia.
Ketika itu terjadilah perbalahan antara dua malaikat, iaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin mengambil roh lelaki itu kerana pada pendapatnya dia adalah orang baik lantaran azamnya untuk bertaubat sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam su'ul-khatimah kerana dia telah membunuh 100 orang dan masih belum membuat sebarang kebajikan. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu.
Allah kemudian menghantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perbalahan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat; adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang hendak dituju atau lebih dekat dengan tempat dia mula bertolak. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan tempat kebajikan, dia kepunyaan Malaikat Rahmat. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi kadar sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah.
IKTIBAR
1.Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani
2.Orang yang berbuat dosa hendaklah diiringi dengan penyesalan dan taubat.
3.Jangan merasa putus asa dari rahmat Allah meskipun telah melakukan dosa yang sangat banyak kerana rahmat Allah sangat luas dan lebih besar daripada dosa besar yang kita lakukan.
4.Menjalankan amar makruf dan nahi mungkar hendaklah dengan hikmah dan bijaksana.
5.Fatwa yang salah dan tidak berlandaskan hukum sebenar hanya menyusahkan diri sendiri
6.Pelepasan dari azab diperolehi hanya dengan berlebihnya timbangan kebajikan meskipun dengar kadar yang sedikit.
7.Orang yang hendak bertaubat mesti buktikan penyesalan dengan tindakan yang sewajarnya.
8.Orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh penyesalan dan berikrar tidak mengulangi kejahatannya akan diterima oleh Allah taubatnya.
9.Mereka yang diterima oleh Allah akan taubatnya seolah-olah tidak mempunyai sebarang dosa.
10.yang sempat bertaubat 'nasuha' sebelum roh sampai ke khalqum dimasukkan ke dalam syurga
Dia masih ingin untuk bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang boleh membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahawa dia telah membunuh 100 orang dan bertanya sama ada Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih ada harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan maksiat.
Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu terus menghala ke negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Sebaik saja sampai separuh perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia.
Ketika itu terjadilah perbalahan antara dua malaikat, iaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin mengambil roh lelaki itu kerana pada pendapatnya dia adalah orang baik lantaran azamnya untuk bertaubat sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam su'ul-khatimah kerana dia telah membunuh 100 orang dan masih belum membuat sebarang kebajikan. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu.
Allah kemudian menghantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perbalahan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat; adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang hendak dituju atau lebih dekat dengan tempat dia mula bertolak. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan tempat kebajikan, dia kepunyaan Malaikat Rahmat. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi kadar sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah.
IKTIBAR
1.Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani
2.Orang yang berbuat dosa hendaklah diiringi dengan penyesalan dan taubat.
3.Jangan merasa putus asa dari rahmat Allah meskipun telah melakukan dosa yang sangat banyak kerana rahmat Allah sangat luas dan lebih besar daripada dosa besar yang kita lakukan.
4.Menjalankan amar makruf dan nahi mungkar hendaklah dengan hikmah dan bijaksana.
5.Fatwa yang salah dan tidak berlandaskan hukum sebenar hanya menyusahkan diri sendiri
6.Pelepasan dari azab diperolehi hanya dengan berlebihnya timbangan kebajikan meskipun dengar kadar yang sedikit.
7.Orang yang hendak bertaubat mesti buktikan penyesalan dengan tindakan yang sewajarnya.
8.Orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh penyesalan dan berikrar tidak mengulangi kejahatannya akan diterima oleh Allah taubatnya.
9.Mereka yang diterima oleh Allah akan taubatnya seolah-olah tidak mempunyai sebarang dosa.
10.yang sempat bertaubat 'nasuha' sebelum roh sampai ke khalqum dimasukkan ke dalam syurga
Tuesday, March 16, 2010
HALAL DARAH MEREKA INI
Hadis Abdullah bin Mas'ud r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang telah bersaksi bahawa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bersaksi bahawa aku adalah utusan Allah kecuali salah satu di antara tiga perkara ini: Iaitu seorang janda yang berzina, seseorang yang membunuh orang lain dan orang yang meninggalkan agamanya iaitu orang yang memisahkan dirinya dari jemaah(MURTAD).
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang telah bersaksi bahawa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bersaksi bahawa aku adalah utusan Allah kecuali salah satu di antara tiga perkara ini: Iaitu seorang janda yang berzina, seseorang yang membunuh orang lain dan orang yang meninggalkan agamanya iaitu orang yang memisahkan dirinya dari jemaah(MURTAD).
Monday, March 15, 2010
IRI HATILAH PADA 2 GOLONGAN INI
Hadis Abdullah bin Mas'ud r.a katanya:
Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua perkara iaitu terhadap seseorang yang dikurniakan oleh Allah harta kekayaan tapi dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan). Juga seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaatkannya (dengan kebenaran) serta mengajarkannya kepada orang lain.
Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua perkara iaitu terhadap seseorang yang dikurniakan oleh Allah harta kekayaan tapi dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan). Juga seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaatkannya (dengan kebenaran) serta mengajarkannya kepada orang lain.
FITNAH DI AKHIR ZAMAN
Hadis Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Akan terjadi berbagai fitnah, di mana pada ketika itu orang yang menjauhi fitnah lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, manakala orang yang berjalan lebih baik dari orang yang melibatkan dirinya dengan fitnah tersebut, orang yang terlibat dengan fitnah tersebut akan mengalami kehancuran. Sesiapa yang menemui tempat berlindung maka hendaklah beliau berlindung dari fitnah tersebut
Rasulullah s.a.w bersabda: Akan terjadi berbagai fitnah, di mana pada ketika itu orang yang menjauhi fitnah lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, manakala orang yang berjalan lebih baik dari orang yang melibatkan dirinya dengan fitnah tersebut, orang yang terlibat dengan fitnah tersebut akan mengalami kehancuran. Sesiapa yang menemui tempat berlindung maka hendaklah beliau berlindung dari fitnah tersebut
TEGAHAN MEMBUKA AIB SENDIRI
Hadis Abu Hurairah r.a katanya:
Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap umatku diampunkan dosanya kecuali yang menyatakan secara terang-terangan (telah melakukan dosa). Termasuk terang-terangan ialah seseorang yang melakukan dosa pada malam hari, sehingga waktu pagi rahsianya ditutupi oleh Allah, (tetapi) waktu paginya dia berkata: Hai Si polan, semalam aku telah melakukan itu dan ini (dosa), sedangkan Allah menutup perbuatannya (dari pengetahuan manusia) sepanjang malam itu. Sepanjang malam itu Allah menutup rahsianya (perbuatan dosa), tetapi waktu pagi dia membuka apa yang telah ditutup oleh Allah.
Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap umatku diampunkan dosanya kecuali yang menyatakan secara terang-terangan (telah melakukan dosa). Termasuk terang-terangan ialah seseorang yang melakukan dosa pada malam hari, sehingga waktu pagi rahsianya ditutupi oleh Allah, (tetapi) waktu paginya dia berkata: Hai Si polan, semalam aku telah melakukan itu dan ini (dosa), sedangkan Allah menutup perbuatannya (dari pengetahuan manusia) sepanjang malam itu. Sepanjang malam itu Allah menutup rahsianya (perbuatan dosa), tetapi waktu pagi dia membuka apa yang telah ditutup oleh Allah.
IMAM SYAFI’E DENGAN PENDEBAT
Pada suatu hari, seorang lelaki pendebat datang bertemu Imam Syafie lalu tertanya, “Mengapakah Iblis diciptakan daripada api dan kemudian dia diseksa pula dengan api?”
Imam Syafie berfikir sejenak. Kemudian Imam Shafie mengambil segumpal tanah kering dan mencampakkannya kepada lelaki itu. Lalu, ternampak tanda-tanda kesakitan dan marah pada air muka lelaki itu.
Apabila melihat keadaan sedemikian, Imam Syafie bertanya kepada lelaki itu, “Adakah kamu sakit?” Lelaki itu menjawab, “Ya! Saya sakit.”
Lantas Imam Syafie pun berkata, “Engkau seorang manusia yang dijadikan daripada tanah, dan engkau juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.”
Lelaki itu terdiam tidak menjawab, tetapi dia telah faham dengan maksud kata-kata Imam Syafie; Begitulah jua keadaan Iblis : dia diciptakan Allah daripada api dan dia juga akan diseksa dengan api.
Imam Syafie berfikir sejenak. Kemudian Imam Shafie mengambil segumpal tanah kering dan mencampakkannya kepada lelaki itu. Lalu, ternampak tanda-tanda kesakitan dan marah pada air muka lelaki itu.
Apabila melihat keadaan sedemikian, Imam Syafie bertanya kepada lelaki itu, “Adakah kamu sakit?” Lelaki itu menjawab, “Ya! Saya sakit.”
Lantas Imam Syafie pun berkata, “Engkau seorang manusia yang dijadikan daripada tanah, dan engkau juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.”
Lelaki itu terdiam tidak menjawab, tetapi dia telah faham dengan maksud kata-kata Imam Syafie; Begitulah jua keadaan Iblis : dia diciptakan Allah daripada api dan dia juga akan diseksa dengan api.
Sunday, March 14, 2010
AKHIRAT JUA YANG ABADI
Hidup di dunia adalah tumpangan sementara waktu saja. Lepas itu kita akan menginap di satu tempat yang kekal di akhirat iaitu syurga atau neraka.
Di dunia, kita ditugaskan mencari seberapa banyak bekal untuk dibawa ke akhirat. Dunia bukan tempat bersenang-lenang. Kesenangan di dunia sementara dan bersifat palsu. Begitu juga dengan kesusahan di dunia - sementara dan palsu.
Perlulah kita fahami bahawa kesenangan di dunia bukan betul-betul senang kerana kemungkinan sekali ia menjadi bala, sementara kesusahannya pula mungkin menjadi satu rahmat dan kenikmatan pula. Dunia adalah tempat kita ditipu dan menipukan.
Akhirat sahaja tempat yang kekal di mana kesenangannya adalah mutlak 100% dan kesusahannya juga 100%. Menyedari hakikat ini, perlulah kita menyediakan perbekalan untuk satu perjalanan yang sangat jauh. Kekurangan bekalan akan amat menyulitkan perjalanan kita.
Dalam menjalani kehidupan seharian, kita sering lupa akan matlamat kehidupan kita yang sebenarnya. Lantaran itu Allah seringkali memberi peringatan (notis) supaya kita tidak lupa akan matlamat penghijrahan kita ke alam Baqa'. Notis demi notis dikenakan ke atas diri kita, tetapi kita tidak faham-faham atau tidak erti bahasa dan gembira malah semakin besar tawanya. Kalau TNB memberi notis pemotongan elektrik, kita menjadi kelam-kabut, tetapi bila Allah menghantar notis, kita buat acuh-tak-acuh saja.
Nabi Musa pernah memberitahu Malaikat supaya segera memberitaunya sebelum mencabut nyawanya. Tetapi tatkala akan diambil nyawanya, Nabi Musa bertanya kenapa Malaikat itu tidak memberitaunya lebih awal. Malaikat segera menjawab, Allah telah banyak kali menghantar peringatan demi peringatan.
Di antara peringatan (notis) yang dihantar oleh Allah ialah semasa pertukaran rambut hitam menjadi putih, gigi menjadi rongak, mata bertambah kabur, pendengaran bertambah kurang, badan segar menjadi layu, kuat menjadi lemah, muda menjadi tua, kulit semakin kendur dan sebagainya.
Ada 3 kategori manusia dalam menghadapi kematian:
Pertama : Bila teringat akan mati, terasa lapang hatinya. Hatinya menjadi suka. Kelompok manusia dalam kategori ini ialah mereka yang benar-benar berilmu dan telah penuh keimanannya terhadap Allah dan hari akhirat. Mereka telah mencapai makrifat terhadap Allah. Ini ialah maqam tertinggi yang dimiliki oleh para wali.
Kedua: Apabila teringat mati, hatinya menjadi takut, kecut dan gementar. Mereka ialah orang-orang kafir yang tidak sanggup berjumpa dengan Allah. Mereka seumpama binatang-binatang liar kepunyaan seseorang. Apabila tuannya hendak mengambilnya, dia cuba melarikan diri tetapi dapat ditangkap secara paksaan. Kematian mereka amat menghinakan.
Ketiga: Golongan ini merasa dukacita dan takut terhadap kematian. Tetapi apabila telah mengalami mati, dia berasa sukacita. Malahan jika diberi pilihan, mereka tidak akan mahu kembali ke dunia semula. Mereka telah dapat mengecapi dan menikmati alam yang lebih kekal dan lebih baik daripada alam fana yang penuh dengan kesusahan dan kesengsaraan. Golongan ini ibarat seorang bayi yang baru lahir dari perut ibunya. Semasa akan keluar, bayi akan menangis kerana menyangka hidup di dalam perut ibunya lebih baik dan nyaman daripada alam dunia. Tetapi apabila telah lahir di dunia ini, dia tidak akan mahu kembali ke dalam perut ibunya meskipun diberi pilihan. Manusia yang termasuk dalam golongan ini ialah orang-orang beriman yang belum mencapai taraf tinggi atau orang mukmin biasa.
Marilah kita berlumba-lumba mencari bekalan untuk akhirat. Janganlah kita asyik berlumba-lumba mencari bekalan dunia sehingga terlupa pertemuan kita dengan Allah. Kematian hanya penghijrahan atau perpindahan alam; berpindah dari negeri binasa ke negeri yang kekal abadi. Allah telah menghantar banyak notis kepada kita dan jadikanlah ia sebagai cemeti untuk menyedarkan diri tentang kematian yang sudah tentu akan menemui kita. Wallahu 'Alam.
Di dunia, kita ditugaskan mencari seberapa banyak bekal untuk dibawa ke akhirat. Dunia bukan tempat bersenang-lenang. Kesenangan di dunia sementara dan bersifat palsu. Begitu juga dengan kesusahan di dunia - sementara dan palsu.
Perlulah kita fahami bahawa kesenangan di dunia bukan betul-betul senang kerana kemungkinan sekali ia menjadi bala, sementara kesusahannya pula mungkin menjadi satu rahmat dan kenikmatan pula. Dunia adalah tempat kita ditipu dan menipukan.
Akhirat sahaja tempat yang kekal di mana kesenangannya adalah mutlak 100% dan kesusahannya juga 100%. Menyedari hakikat ini, perlulah kita menyediakan perbekalan untuk satu perjalanan yang sangat jauh. Kekurangan bekalan akan amat menyulitkan perjalanan kita.
Dalam menjalani kehidupan seharian, kita sering lupa akan matlamat kehidupan kita yang sebenarnya. Lantaran itu Allah seringkali memberi peringatan (notis) supaya kita tidak lupa akan matlamat penghijrahan kita ke alam Baqa'. Notis demi notis dikenakan ke atas diri kita, tetapi kita tidak faham-faham atau tidak erti bahasa dan gembira malah semakin besar tawanya. Kalau TNB memberi notis pemotongan elektrik, kita menjadi kelam-kabut, tetapi bila Allah menghantar notis, kita buat acuh-tak-acuh saja.
Nabi Musa pernah memberitahu Malaikat supaya segera memberitaunya sebelum mencabut nyawanya. Tetapi tatkala akan diambil nyawanya, Nabi Musa bertanya kenapa Malaikat itu tidak memberitaunya lebih awal. Malaikat segera menjawab, Allah telah banyak kali menghantar peringatan demi peringatan.
Di antara peringatan (notis) yang dihantar oleh Allah ialah semasa pertukaran rambut hitam menjadi putih, gigi menjadi rongak, mata bertambah kabur, pendengaran bertambah kurang, badan segar menjadi layu, kuat menjadi lemah, muda menjadi tua, kulit semakin kendur dan sebagainya.
Ada 3 kategori manusia dalam menghadapi kematian:
Pertama : Bila teringat akan mati, terasa lapang hatinya. Hatinya menjadi suka. Kelompok manusia dalam kategori ini ialah mereka yang benar-benar berilmu dan telah penuh keimanannya terhadap Allah dan hari akhirat. Mereka telah mencapai makrifat terhadap Allah. Ini ialah maqam tertinggi yang dimiliki oleh para wali.
Kedua: Apabila teringat mati, hatinya menjadi takut, kecut dan gementar. Mereka ialah orang-orang kafir yang tidak sanggup berjumpa dengan Allah. Mereka seumpama binatang-binatang liar kepunyaan seseorang. Apabila tuannya hendak mengambilnya, dia cuba melarikan diri tetapi dapat ditangkap secara paksaan. Kematian mereka amat menghinakan.
Ketiga: Golongan ini merasa dukacita dan takut terhadap kematian. Tetapi apabila telah mengalami mati, dia berasa sukacita. Malahan jika diberi pilihan, mereka tidak akan mahu kembali ke dunia semula. Mereka telah dapat mengecapi dan menikmati alam yang lebih kekal dan lebih baik daripada alam fana yang penuh dengan kesusahan dan kesengsaraan. Golongan ini ibarat seorang bayi yang baru lahir dari perut ibunya. Semasa akan keluar, bayi akan menangis kerana menyangka hidup di dalam perut ibunya lebih baik dan nyaman daripada alam dunia. Tetapi apabila telah lahir di dunia ini, dia tidak akan mahu kembali ke dalam perut ibunya meskipun diberi pilihan. Manusia yang termasuk dalam golongan ini ialah orang-orang beriman yang belum mencapai taraf tinggi atau orang mukmin biasa.
Marilah kita berlumba-lumba mencari bekalan untuk akhirat. Janganlah kita asyik berlumba-lumba mencari bekalan dunia sehingga terlupa pertemuan kita dengan Allah. Kematian hanya penghijrahan atau perpindahan alam; berpindah dari negeri binasa ke negeri yang kekal abadi. Allah telah menghantar banyak notis kepada kita dan jadikanlah ia sebagai cemeti untuk menyedarkan diri tentang kematian yang sudah tentu akan menemui kita. Wallahu 'Alam.
HIKMAT 7 AYAT
Menurut tafsir Hanafi, barang siapa hafal tujuh kalimat,ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih-buih laut.
1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut
4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap La haula wala kuwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.
1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut
4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap La haula wala kuwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.
4 Orang Lelaki Yang Ditarik Wanita Ke Neraka
Seseorang wanita itu apabila di hari akhirat akan menarik empat golongan lelaki bersamanya ke dalam neraka.
Artikel ini bukan untuk memperkecilkan wanita tetapi sebaliknya iaitu supaya kaum lelaki memainkan peranannya dengan hak & saksama serta berwaspada akan tanggung-jawab yang dipikul!
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji & sebagainya. Dia memperbiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.....tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.
2. Suaminya
Apabila sang suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat,memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yg bukan mahram apabila suami mendiam diri walaupun dia seorang alim seperti solat tidak bertangguh, puasa tidak tinggal maka dia akan turut ditarik oleh isterinya.
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya.....jikalau mereka hanya mementing keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM ...tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.
4. Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yg haram dari Islam,bila ibu membuat kemungkaran pengumpat,mengata & sebagainya maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak. Nantikan tarikan ibunya ke neraka.
Maka kita lihat betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat ,maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.
Firman ALLAH SWT:-
"HAI ANAK ADAM PERIHARALAH DIRI KAMU SERTA AHLIMU DARI API NERAKA DI MANA BAHAN PEMBAKARNYA IALAH MANUSIA,JIN DAN BATU-BATU..."
Harga seseorang muslim adalah sangat berharga. ALLAH SWT nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA,semua kaum muslim dijamin masuk syurga (sesiapa yg mengucap kalimah tauhid) dengan itu janganlah kita membuang atau tidak mengendah janji dan peluang yg ALLAH SWT berikan pada kita
Artikel ini bukan untuk memperkecilkan wanita tetapi sebaliknya iaitu supaya kaum lelaki memainkan peranannya dengan hak & saksama serta berwaspada akan tanggung-jawab yang dipikul!
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji & sebagainya. Dia memperbiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.....tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.
2. Suaminya
Apabila sang suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat,memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yg bukan mahram apabila suami mendiam diri walaupun dia seorang alim seperti solat tidak bertangguh, puasa tidak tinggal maka dia akan turut ditarik oleh isterinya.
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya.....jikalau mereka hanya mementing keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM ...tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.
4. Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yg haram dari Islam,bila ibu membuat kemungkaran pengumpat,mengata & sebagainya maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak. Nantikan tarikan ibunya ke neraka.
Maka kita lihat betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat ,maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.
Firman ALLAH SWT:-
"HAI ANAK ADAM PERIHARALAH DIRI KAMU SERTA AHLIMU DARI API NERAKA DI MANA BAHAN PEMBAKARNYA IALAH MANUSIA,JIN DAN BATU-BATU..."
Harga seseorang muslim adalah sangat berharga. ALLAH SWT nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA,semua kaum muslim dijamin masuk syurga (sesiapa yg mengucap kalimah tauhid) dengan itu janganlah kita membuang atau tidak mengendah janji dan peluang yg ALLAH SWT berikan pada kita
Saturday, March 13, 2010
BERBUAT BAIKLAH
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 36
Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa dan kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan jiran tetangga yang dekat dan jiran tetangga yang jauh dan rakan sejawat dan orang musafir yang terlantar dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takbur dan membangga-banggakan diri.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 86
Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu.
Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa dan kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan jiran tetangga yang dekat dan jiran tetangga yang jauh dan rakan sejawat dan orang musafir yang terlantar dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takbur dan membangga-banggakan diri.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 86
Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu.
BANTULAH SESAMA ISLAM
Hadis Abu Musa r.a katanya:
Aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah sifat orang Islam yang paling baik? Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang yang menyelamatkan orang-orang Islam dengan lidah dan tangannya
Aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah sifat orang Islam yang paling baik? Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang yang menyelamatkan orang-orang Islam dengan lidah dan tangannya
Friday, March 12, 2010
Surah Al-Ikhlas
Hadis Aisyah r.a:
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah mengutus seorang lelaki untuk ikut bergabung dengan pasukan yang sedang berperang. Ketika sembahyang dia membaca Al-Quran dan mengakhiri bacaannya dengan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ iaitu surah Al-Ikhlas.
Ketika pasukan tentera dalam perjalanan
pulang, perkara itu diberitahu kepada Rasulullah s.a.w. Baginda terus bersabda: Tanyakan saja kepadanya, mengapa dia lakukan itu? Lalu mereka bertanya kepada lelaki tersebut dan dia menjawab: Sesungguhnya ia adalah sifat Allah Yang Maha Pemurah.
Aku sangat suka sekali membacanya. Setelah mendengar jawapan itu Rasulullah s.a.w bersabda: Beritahulah kepadanya bahawa Allah juga menyukainya
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah mengutus seorang lelaki untuk ikut bergabung dengan pasukan yang sedang berperang. Ketika sembahyang dia membaca Al-Quran dan mengakhiri bacaannya dengan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ iaitu surah Al-Ikhlas.
Ketika pasukan tentera dalam perjalanan
pulang, perkara itu diberitahu kepada Rasulullah s.a.w. Baginda terus bersabda: Tanyakan saja kepadanya, mengapa dia lakukan itu? Lalu mereka bertanya kepada lelaki tersebut dan dia menjawab: Sesungguhnya ia adalah sifat Allah Yang Maha Pemurah.
Aku sangat suka sekali membacanya. Setelah mendengar jawapan itu Rasulullah s.a.w bersabda: Beritahulah kepadanya bahawa Allah juga menyukainya
Bersumpah/Dengki/Pilihan Terbaik
1.Dari Abdullah r.a, Nabi SAW bersabda:”Sesiapa yang bersumpah hendaklah bersumpah dengan nama Allah atau hendaklah diam sahaja.”
(al-Bukhari)
2.Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Tidak berkumpul di dalam hati seorang manusia antara iman dan dengki"
Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi
3.Dari Abu Hurairah r.a katanya:”Pada malam terjadinya israk dan mikraj di Baitul Maqdis, baginda dihidangkan dua gelas minuman, masing-masing berisi arak dan susu. Setelah baginda meneliti kedua gelas itu, maka baginda mengambil gelas berisi susu. Berkata Jibrail:”Segala puji bagi Allah yang membimbing anda memilih yang suci. Seandainya anda memilih arak, nescaya sesatlah umatmu.”
(Muslim)
(al-Bukhari)
2.Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Tidak berkumpul di dalam hati seorang manusia antara iman dan dengki"
Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi
3.Dari Abu Hurairah r.a katanya:”Pada malam terjadinya israk dan mikraj di Baitul Maqdis, baginda dihidangkan dua gelas minuman, masing-masing berisi arak dan susu. Setelah baginda meneliti kedua gelas itu, maka baginda mengambil gelas berisi susu. Berkata Jibrail:”Segala puji bagi Allah yang membimbing anda memilih yang suci. Seandainya anda memilih arak, nescaya sesatlah umatmu.”
(Muslim)
Thursday, March 11, 2010
HIKMAH BERBAKTI KEPADA KEDUA IBUBAPA
Selain seorang nabi,Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar.Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.
Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu hairan, "Kubah apakah gerangan ini?" fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
"Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?" tanya Nabi Sulaiman kehairanan.
"Aku adalah manusia", jawab pemuda itu perlahan.
"Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?" tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.
"Setelah ibuku mati aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya." Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.
"Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?" tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.
"Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah."
"Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?"
"Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."
"Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?" tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan.
"Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam." Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.
Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu hairan, "Kubah apakah gerangan ini?" fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
"Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?" tanya Nabi Sulaiman kehairanan.
"Aku adalah manusia", jawab pemuda itu perlahan.
"Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?" tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.
"Setelah ibuku mati aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya." Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.
"Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?" tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.
"Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah."
"Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?"
"Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."
"Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?" tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan.
"Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam." Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Wednesday, March 10, 2010
AL FATIHAH-Syeikh Al-Azhar meninggal dunia
DUBAI – Syeikh Al-Azhar, Syeikh Mohamed Sayed Tantawi meninggal dunia semasa melakukan lawatan ke Arab Saudi.
Tantawi meninggal dunia di ibu negara Saudi, Riyadh selepas mengalami serangan sakit jantung.
Berita kematian Tantawi itu dilaporkan oleh stesen televisyen Al Jazeera hari ini, dengan memetik wartawannya di Saudi. - Agensi
Ashaabul Kahfi:Dunia islam telah kehilangan seorang tokoh ulamak,janganlah kita dalam dilema lagi,kuatkan ibadah kita.
Tantawi meninggal dunia di ibu negara Saudi, Riyadh selepas mengalami serangan sakit jantung.
Berita kematian Tantawi itu dilaporkan oleh stesen televisyen Al Jazeera hari ini, dengan memetik wartawannya di Saudi. - Agensi
Ashaabul Kahfi:Dunia islam telah kehilangan seorang tokoh ulamak,janganlah kita dalam dilema lagi,kuatkan ibadah kita.
Tuesday, March 9, 2010
AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
Monday, March 8, 2010
SIFAT-SIFAT MUJAHIDEEN
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 190
Dan perangilah kerana (menegakkan dan mempertahankan) agama Allah akan orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah kamu menceroboh (dengan memulakan peperangan); kerana sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang menceroboh.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 193
Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) menjadilah agama itu semata-mata kerana Allah. Kemudian jika mereka berhenti maka tidaklah ada permusuhan lagi melainkan terhadap orang-orang yang zalim.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 218
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjuang pada jalan Allah (untuk menegakkan agama Islam), mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 244
Dan berperanglah kamu pada jalan Allah (kerana mempertahankan kebenaran agamaNya); dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 249
Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah dia dari pengikutku dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya dia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 250
Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir
Al-Quran > Surah A-li 'Imraan> Ayat 13
Sesungguhnya telah ada satu tanda (bukti) bagi kamu pada (peristiwa) dua pasukan yang telah bertemu (di medan perang); satu pasukan (orang-orang Islam) berperang pada jalan Allah (kerana mempertahankan agama Allah) dan yang satu lagi dari golongan kafir musyrik. Mereka (yang kafir itu) melihat orang-orang Islam dengan pandangan mata biasa dua kali ramainya berbanding dengan mereka sendiri dan Allah sentiasa menguatkan sesiapa yang dikehendakiNya, dengan memberikan pertolonganNya. Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat satu pengajaran yang memberi insaf bagi orang-orang yang berfikiran (yang celik mata hatinya).
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 59
Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 75
Dan apakah yang menghalang kamu (maka kamu) tidak mahu berperang pada jalan Allah (untuk menegakkan agama Islam) dan (untuk menyelamatkan) orang-orang yang tertindas dari kaum lelaki, perempuan dan kanak-kanak, iaitu mereka yang selalu (berdoa dengan) berkata: Wahai Tuhan kami! Keluarkanlah kami dari negeri (Mekah) ini, yang penduduknya (kaum kafir musyrik) yang zalim dan jadikanlah bagi kami dari pihakMu seorang pemimpin yang mengawal (keselamatan agama kami) dan jadikanlah bagi kami dari pihakMu seorang pemimpin yang membela kami (dari ancaman musuh).
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 76
Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan Taghut (Syaitan). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut Syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 77
Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad), akan orang-orang yang (pernah) dikatakan kepada mereka: Tahanlah tangan kamu (daripada bertindak melancarkan perang yang belum diizinkan) dan dirikanlah sembahyang serta berikanlah zakat. (Mereka meminta juga hendak berperang), kemudian apabila mereka diperintahkan berperang, tiba-tiba sepuak di antara mereka merasa gerun kepada manusia sama seperti mereka merasa gerun kepada (azab) Allah atau lebih gerun lagi. Lalu mereka (merayu kepada Allah dengan) berkata: Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan kami berperang (pada saat ini)? Mengapa Engkau tidak biarkan kami hingga ke tempoh yang singkat (iaitu akhir hayat kami)? Katakanlah (wahai Muhammad): Harta benda yang menjadi kesenangan di dunia ini adalah sedikit sahaja, (dan akhirnya akan lenyap) dan (balasan) hari akhirat itu lebih baik lagi bagi orang-orang yang bertakwa (kerana ia lebih mewah dan kekal selama-lamanya) dan kamu pula tidak akan dianiaya sedikit pun.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 84
Oleh itu, berperanglah (wahai Muhammad) pada jalan Allah (untuk membela Islam dari pencerobohan musuh); engkau tidak diberati selain daripada kewajipanmu sendiri dan berilah perangsang kepada orang-orang yang beriman (supaya turut berjuang dengan gagah berani). Mudah-mudahan Allah menahan bahaya serangan orang-orang yang kafir itu dan (ingatlah) Allah Amatlah besar kekuatanNya dan Amatlah berat azab seksaNya.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 95
Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman selain daripada orang-orang yang ada keuzuran dengan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada jalan Allah (untuk membela Islam) dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjuang atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur) dengan pahala yang amat besar;
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 104
Dan janganlah kamu lemah (hilang semangat) dalam memburu musuh (yang menceroboh) itu; kerana kalau kamu menderita sakit (luka atau mati) maka sesungguhnya mereka pun menderita sakitnya seperti penderitaan kamu; sedang kamu mengharapkan dari Allah apa yang mereka tidak harapkan (iaitu balasan yang baik pada hari akhirat kelak) dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 15
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang mara menyerang, maka janganlah kamu berpaling undur dari menentang mereka.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 45
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya dan sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya (mencapai kemenangan).
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 60
Dan sediakanlah untuk menentang mereka (musuh yang menceroboh) segala jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dan dari pasukan-pasukan berkuda yang lengkap sedia, untuk menggerunkan dengan persediaan itu musuh Allah dan musuh kamu serta musuh-musuh yang lain dari mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya dan apa sahaja yang kamu belanjakan pada jalan Allah akan disempurnakan balasannya kepada kamu dan kamu tidak akan dianiaya.
AL-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 65
Wahai Nabi, peransangkanlah orang-orang yang beriman itu untuk berperang. Jika ada di antara kamu dua puluh yang sabar, nescaya mereka dapat menewaskan dua ratus orang (dari pihak musuh yang kafir itu) dan jika ada di antara kamu seratus orang, nescaya mereka dapat menewaskan seribu orang dari golongan yang kafir, disebabkan mereka (yang kafir itu) orang-orang yang tidak mengerti.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 72
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya menjadi penyokong dan pembela antara satu dengan yang lain. Dan orang-orang yang beriman yang belum berhijrah, maka kamu tidak bertanggungjawab sedikitpun untuk membela mereka sehingga mereka berhijrah dan jika mereka meminta pertolongan kepada kamu dalam perkara (menentang musuh untuk membela) agama, maka wajiblah kamu menolongnya, kecuali terhadap kaum yang ada perjanjian setia di antara kamu dengan mereka dan (ingatlah) Allah Maha Melihat akan apa yang kamu lakukan.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 74
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah (untuk membela Islam) dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia yang mulia.
Dan perangilah kerana (menegakkan dan mempertahankan) agama Allah akan orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah kamu menceroboh (dengan memulakan peperangan); kerana sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang menceroboh.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 193
Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) menjadilah agama itu semata-mata kerana Allah. Kemudian jika mereka berhenti maka tidaklah ada permusuhan lagi melainkan terhadap orang-orang yang zalim.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 218
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjuang pada jalan Allah (untuk menegakkan agama Islam), mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 244
Dan berperanglah kamu pada jalan Allah (kerana mempertahankan kebenaran agamaNya); dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 249
Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah dia dari pengikutku dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya dia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar.
Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 250
Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir
Al-Quran > Surah A-li 'Imraan> Ayat 13
Sesungguhnya telah ada satu tanda (bukti) bagi kamu pada (peristiwa) dua pasukan yang telah bertemu (di medan perang); satu pasukan (orang-orang Islam) berperang pada jalan Allah (kerana mempertahankan agama Allah) dan yang satu lagi dari golongan kafir musyrik. Mereka (yang kafir itu) melihat orang-orang Islam dengan pandangan mata biasa dua kali ramainya berbanding dengan mereka sendiri dan Allah sentiasa menguatkan sesiapa yang dikehendakiNya, dengan memberikan pertolonganNya. Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat satu pengajaran yang memberi insaf bagi orang-orang yang berfikiran (yang celik mata hatinya).
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 59
Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 75
Dan apakah yang menghalang kamu (maka kamu) tidak mahu berperang pada jalan Allah (untuk menegakkan agama Islam) dan (untuk menyelamatkan) orang-orang yang tertindas dari kaum lelaki, perempuan dan kanak-kanak, iaitu mereka yang selalu (berdoa dengan) berkata: Wahai Tuhan kami! Keluarkanlah kami dari negeri (Mekah) ini, yang penduduknya (kaum kafir musyrik) yang zalim dan jadikanlah bagi kami dari pihakMu seorang pemimpin yang mengawal (keselamatan agama kami) dan jadikanlah bagi kami dari pihakMu seorang pemimpin yang membela kami (dari ancaman musuh).
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 76
Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan Taghut (Syaitan). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut Syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 77
Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad), akan orang-orang yang (pernah) dikatakan kepada mereka: Tahanlah tangan kamu (daripada bertindak melancarkan perang yang belum diizinkan) dan dirikanlah sembahyang serta berikanlah zakat. (Mereka meminta juga hendak berperang), kemudian apabila mereka diperintahkan berperang, tiba-tiba sepuak di antara mereka merasa gerun kepada manusia sama seperti mereka merasa gerun kepada (azab) Allah atau lebih gerun lagi. Lalu mereka (merayu kepada Allah dengan) berkata: Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan kami berperang (pada saat ini)? Mengapa Engkau tidak biarkan kami hingga ke tempoh yang singkat (iaitu akhir hayat kami)? Katakanlah (wahai Muhammad): Harta benda yang menjadi kesenangan di dunia ini adalah sedikit sahaja, (dan akhirnya akan lenyap) dan (balasan) hari akhirat itu lebih baik lagi bagi orang-orang yang bertakwa (kerana ia lebih mewah dan kekal selama-lamanya) dan kamu pula tidak akan dianiaya sedikit pun.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 84
Oleh itu, berperanglah (wahai Muhammad) pada jalan Allah (untuk membela Islam dari pencerobohan musuh); engkau tidak diberati selain daripada kewajipanmu sendiri dan berilah perangsang kepada orang-orang yang beriman (supaya turut berjuang dengan gagah berani). Mudah-mudahan Allah menahan bahaya serangan orang-orang yang kafir itu dan (ingatlah) Allah Amatlah besar kekuatanNya dan Amatlah berat azab seksaNya.
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 95
Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman selain daripada orang-orang yang ada keuzuran dengan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada jalan Allah (untuk membela Islam) dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjuang atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur) dengan pahala yang amat besar;
Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 104
Dan janganlah kamu lemah (hilang semangat) dalam memburu musuh (yang menceroboh) itu; kerana kalau kamu menderita sakit (luka atau mati) maka sesungguhnya mereka pun menderita sakitnya seperti penderitaan kamu; sedang kamu mengharapkan dari Allah apa yang mereka tidak harapkan (iaitu balasan yang baik pada hari akhirat kelak) dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 15
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang mara menyerang, maka janganlah kamu berpaling undur dari menentang mereka.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 45
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya dan sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak-banyak, supaya kamu berjaya (mencapai kemenangan).
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 60
Dan sediakanlah untuk menentang mereka (musuh yang menceroboh) segala jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dan dari pasukan-pasukan berkuda yang lengkap sedia, untuk menggerunkan dengan persediaan itu musuh Allah dan musuh kamu serta musuh-musuh yang lain dari mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya dan apa sahaja yang kamu belanjakan pada jalan Allah akan disempurnakan balasannya kepada kamu dan kamu tidak akan dianiaya.
AL-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 65
Wahai Nabi, peransangkanlah orang-orang yang beriman itu untuk berperang. Jika ada di antara kamu dua puluh yang sabar, nescaya mereka dapat menewaskan dua ratus orang (dari pihak musuh yang kafir itu) dan jika ada di antara kamu seratus orang, nescaya mereka dapat menewaskan seribu orang dari golongan yang kafir, disebabkan mereka (yang kafir itu) orang-orang yang tidak mengerti.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 72
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya menjadi penyokong dan pembela antara satu dengan yang lain. Dan orang-orang yang beriman yang belum berhijrah, maka kamu tidak bertanggungjawab sedikitpun untuk membela mereka sehingga mereka berhijrah dan jika mereka meminta pertolongan kepada kamu dalam perkara (menentang musuh untuk membela) agama, maka wajiblah kamu menolongnya, kecuali terhadap kaum yang ada perjanjian setia di antara kamu dengan mereka dan (ingatlah) Allah Maha Melihat akan apa yang kamu lakukan.
Al-Quran > Surah Al-Anfaal> Ayat 74
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah (untuk membela Islam) dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia yang mulia.
KELEBIHAN BISMILLAH
1.Yang pertama ditulis Qalam adalah BISMILLAH. Maka apabila kamu menulis sesuatu,
maka tulislah BISMILLAH pada awalnya kerana BISMILLAH tertulis pada setiap wahyu
yang Allah turunkan kepada Jibrail.
2.‘BISMILLAH untukmu dan rumahmu, suruhlah mereka apabila memohon sesuatu dengan BISMILLAH.. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap mata pun sejak BISMILLAH diturunkan kepada Adam. (Hadith Qudsi)
3.Tatkala BISMILLAH diturunkan ke dunia, maka semua awan berlari ke arah barat, angin terdiam, air laut bergelora, mendengarkan seluruh binatang dan terlempar semua syaitan.
4.Demi Allah dan keagunganNya, tidaklah BISMILLAH itu dibacakan pada orang sakit melainkan menjadi ubat untuknya dan tidaklah BISMILLAH dibacakan di atas sesuatu melainkan Allah beri berkat ke atasnya.
5.Barangsiapa yang ingin hidup bah agi a dan mati syahid, maka bacalah BISMILLAH setiap kali memulakan sesuatu perkara yang baik.
6.Jumlah huruf dalam BSMILLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga neraka ada 19
(QS.AL Muddatsir:30) .Ibnu Mas ‘ ud berkata: ‘ Sesiapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah BISMILLAH 19 kali setiap hari. ‘
7.Tiap huruf BISMILLAH ada JUNNAH (penjaga/khadam) hingga tiap huruf berkata, ‘ Siapa yang membaca BISMILLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya. ‘
8.Barangsiapa yang memuliakan tulisan BISMILLAH nescaya Allah akan mengangkat namanya di syurga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.
9.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.
10.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan syaitan, kecurian dan kebakaran, maut mendadak dan bala.
11.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 50 kali di hadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada si pembaca.
maka tulislah BISMILLAH pada awalnya kerana BISMILLAH tertulis pada setiap wahyu
yang Allah turunkan kepada Jibrail.
2.‘BISMILLAH untukmu dan rumahmu, suruhlah mereka apabila memohon sesuatu dengan BISMILLAH.. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap mata pun sejak BISMILLAH diturunkan kepada Adam. (Hadith Qudsi)
3.Tatkala BISMILLAH diturunkan ke dunia, maka semua awan berlari ke arah barat, angin terdiam, air laut bergelora, mendengarkan seluruh binatang dan terlempar semua syaitan.
4.Demi Allah dan keagunganNya, tidaklah BISMILLAH itu dibacakan pada orang sakit melainkan menjadi ubat untuknya dan tidaklah BISMILLAH dibacakan di atas sesuatu melainkan Allah beri berkat ke atasnya.
5.Barangsiapa yang ingin hidup bah agi a dan mati syahid, maka bacalah BISMILLAH setiap kali memulakan sesuatu perkara yang baik.
6.Jumlah huruf dalam BSMILLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga neraka ada 19
(QS.AL Muddatsir:30) .Ibnu Mas ‘ ud berkata: ‘ Sesiapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah BISMILLAH 19 kali setiap hari. ‘
7.Tiap huruf BISMILLAH ada JUNNAH (penjaga/khadam) hingga tiap huruf berkata, ‘ Siapa yang membaca BISMILLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya. ‘
8.Barangsiapa yang memuliakan tulisan BISMILLAH nescaya Allah akan mengangkat namanya di syurga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.
9.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.
10.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan syaitan, kecurian dan kebakaran, maut mendadak dan bala.
11.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 50 kali di hadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada si pembaca.
UNTA MENJADI HAKIM
Pada zaman Rasulullah s.a.w, ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Nabi s.a.w lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menadah ke langit seraya berkata, "Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu."
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Nabi s.a.w, "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."
Kemudian Nabi s.a.w bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?"
Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta."
Akhirnya Rasulullah s.a.w berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar."
Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."
Rasulullah s.a.w bersabda,
"Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah melalui seekor unta yang menghakimkannya.
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Nabi s.a.w, "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."
Kemudian Nabi s.a.w bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?"
Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta."
Akhirnya Rasulullah s.a.w berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar."
Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."
Rasulullah s.a.w bersabda,
"Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah melalui seekor unta yang menghakimkannya.
Sunday, March 7, 2010
Permohonan si Miskin dan si Kaya
Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya danjuga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, "saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT.
Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya.
Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya.
Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.
Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya.
Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya.
Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.
Dunia Hanya Sementara
1.Dari Ibnu Umar r.a katanya: rasulullah S.A.W memegang bahuku lalu ia bersabda:” Hendaklah engkau berada dalam dunia seolah-olah engkau orang berdagang atau orang yang sedang melalui di jalan (pengembara)”. Dan adalah Ibnu Umar r.a berkata:”Jika engkau berada di waktu petang, maka janganlah engkau menunggu pagi; dan apabila engkau berada di waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu petang. Dan gunakanlah dari sihat engkau bagi masa sakit engkau dan dari hidup engkau bagi masa mati engkau.
(al-Bukhari)
(al-Bukhari)
Saturday, March 6, 2010
MAKAN,ROKOK INGAT..SOLAT??
Dalam sebuah hadis menerangkan bahwa Rasulullah S.A.W telah bersabda : "Barangsiapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya. Tiga darinya akan dirasainya semasa di dunia ini antaranya :-
· Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.
· Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.
· Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.
Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :
· Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.
· Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar.
· Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.
Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-
· Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan.
· Kuburnya akan menjadi cukup gelap.
· Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).
Ashaabul Kahfi:Pada insan-insan yang boleh ingat waktu makan,waktu merokok..malulah pada Allah seperti kamu malu apabila
Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :
· Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.
· Allah S.W.T sangat murka kepadanya.
· Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.
· Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.
· Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.
· Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.
Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :
· Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.
· Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar.
· Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.
Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-
· Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan.
· Kuburnya akan menjadi cukup gelap.
· Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).
Ashaabul Kahfi:Pada insan-insan yang boleh ingat waktu makan,waktu merokok..malulah pada Allah seperti kamu malu apabila
Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :
· Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.
· Allah S.W.T sangat murka kepadanya.
· Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.
NAMA-NAMA SYURGA DAN NERAKA
Tingkatan dan nama-nama syurga ialah :-
1.Firdaus
2.Syurga 'Adn
3.Syurga Na'iim
4.Syurga Na'wa
5.Syurga Darussalaam
6.Daarul Muaqaamah
7.Al-Muqqamul Amin
8.Syurga Khuldi
Sedangkan tingkatan dan nama-nama neraka adalah :-
1.Neraka Jahannam
2.Neraka Jahiim
3.Neraka Hawiyah
4.Neraka Wail
5.Neraka Sa'iir
6.Neraka Ladhaa
7.Neraka Saqar
8.Neraka Hutomah
1.Firdaus
2.Syurga 'Adn
3.Syurga Na'iim
4.Syurga Na'wa
5.Syurga Darussalaam
6.Daarul Muaqaamah
7.Al-Muqqamul Amin
8.Syurga Khuldi
Sedangkan tingkatan dan nama-nama neraka adalah :-
1.Neraka Jahannam
2.Neraka Jahiim
3.Neraka Hawiyah
4.Neraka Wail
5.Neraka Sa'iir
6.Neraka Ladhaa
7.Neraka Saqar
8.Neraka Hutomah
Friday, March 5, 2010
lima beranak merempat tanpa rumah(DIMANA"JUARA RAKYAT"?)
KUALA TERENGGANU - Ekoran kesempitan hidup, satu keluarga lima beranak terpaksa 'menghuni' sebuah pondok rekreasi berhadapan Istana Maziah sebagai tempat berteduh sejak sebulan lalu.Lebih menyedihkan lagi, keluarga Zailani Awang, 48, terpaksa tidur beralaskan lantai simen dan berbantalkan kotak tanpa kemudahan asas.
Sebelum ini, keluarga malang tersebut merempat di kaki-kaki lima dan pekarangan masjid di sekitar Bandar Raya Kuala Terengganu sebagai tempat berteduh.
"Inilah rumah kami dan di sinilah kami berteduh daripada panas dan hujan," kata Zailani yang berasal dari Tok Bali, Pasir Puteh, Kelantan sebelum berhijrah ke Kuala Terengganu awal tahun ini untuk mencari pekerjaan.
Kesengsaraan Zailani bersama isteri, Zalina Ali, 42, dan tiga anak lelakinya, Mohd. Fikri, 8, Mohd. Sabri, 6, dan Mohd. Bakri, 3, bermula sejak mereka diarah keluar dari sebuah rumah dalam pembinaan di Tok Jembal, dekat sini lebih sebulan lalu.
Sejak itu, Zailani yang berkerja mengambil upah sebagai pembantu kedai di sebuah restoran berdepan dengan kesukaran untuk mendapat rumah sewa.
"Saya memang tidak mampu bayar sewa rumah sekitar Kuala Terengganu yang berharga RM400 kerana gaji saya hanya cukup-cukup untuk makan.
"Saya ada jumpa rumah sewa berharga RM200, tetapi tuan rumah pula tidak mahu menyewakan kepada kami kerana tidak percaya saya mampu membayar sewa. Memang sedih sangat apabila orang memandang hina keluarga saya," ujarnya.
Zailani menambah, sepanjang sebulan merempat tanpa rumah, dia dan keluarga sering dipandang sinis oleh orang ramai selain menumpang tandas masjid dan tandas awam untuk mandi.
"Biarpun hidup dalam keadaan susah seperti ini, saya tidak pernah meminta-minta daripada orang ramai. Saya masih mampu memberikan makan keluarga.
"Apa yang saya sedih ialah nasib anak yang tidak pernah bersekolah dan mereka terpaksa tinggal di jalanan," tambahnya.
Sementara itu, Zalina berkata, meskipun hidup dalam keadaan terhimpit mereka juga dianiayai apabila kecurian beg pakaian, dompet dan kad pengenalan baru-baru ini.
Sumber:kosmo online
Ashaabul Kahfi:
Firman Allah s.w.t. dalam surah an-Nisa ayat 59 yang bermaksud:
Wahai orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan Ulil-Amri (orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.
sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud:
Sesiapa yang mati tanpa memberi baiah (sokongan) maka ia mati sebagaimana orang jahiliah.
Maka, seluruh umat Islam adalah berkewajipan memilih dan memberi ketaatan kepada pemimpin yang adil iaitu yang melaksanakan hukum-hukum dan syariat Allah s.w.t.
Kepada pemimpin islam yang diberi kuasa dan kemampuan,anda bertanggungjawab kepada rakyat dibawah pemerintahan anda,jika masih ada lagi rakyat seperti kisah diatas,maka sesungguhnya,anda adalah pemerintah yang tidak melaksanakan hukum Allah dan sunnah Rasulullah,kerana sedang anda tidur nyenyak berbantalkan tilam mahal,bilik berhawa dingin,tetapi rakyat masih tidak ada tempat berteduh..tidak kah ini satu kezaliman??Haruskah kami hamba rakyat taat pada pemerintah yang tidak peduli nasib rakyat?Ingatlah wahai pemerintah,kalian boleh terlepas dari hukum manusia,tetapi..adakah kalian boleh terlepas dari hukum Allah di akhirat kelak??contohilah khalifah Umar bin Abd Aziz,jangan hanya bercakap sahaja..Setiap hari kita boleh lihat begitu banyak aduan masaalah rakyat dibuat melalui media massa,kami rakyat terasa pelik juga,apa yang ahli parlimen dan adun buat??sehingga jika kami rakyat ada masalah,media cetak dan elektroniklah menjadi ahli parlimen dan adun kami.Bila dah masuk tv,terhegeh-hegehlah baru nak buat kerja.Anda ahli parlimen atau adun semacam "enjoy" dengan aksi lompat parti,mudah bagi anda lompat,kerana gaji tetap masuk,tetapi kami rakyat jika lompat kerja,memang dah tak dapat gaji,terpaksa menganggur.Semua ahli-ahli YB pandai bercakap sahaja,yang terpaksa tanggung,adalah rakyat.Terpaksa bekerja bermatian-matian untuk bayar gaji YB dan projek-projek yang tak diperlukan rakyat.Nak mintak buat jambatan pun susah,dah buat runtuh pulak.Moga Allah bersama-sama ummatNya yang ikhlas menegakkan segala syariatNya.
SIFAT-SIFAT SAHABAT
1. Jika engkau berbuat bakti kepadanya, ia akan melindungimu
2. Jika engkau rapatkan persahabatan dengannya, dia akan membalas baik persahabatanmu itu
3. Jika engkau perlukan pertolongan daripadanya berupa wang dan sebagainya ia akan membantumu
4. Jika engkau menghulurkan sesuatu kebaikan kepadanya, ia akan menerima dengan baik
5. Jika ia mendapat sesuatu kabajikan (bantuan) daripadamu, ia akan menghargai atau menyebut kebaikanmu
6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik daripadamu, ia akan menutupnya
7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan daripadanya, ia akan mengusahakannya
8. Jika engkau berdiam diri (kerana malu hendak meminta), ia akan menanyakan kesusahanmu
9. Jika datang sesuatu bencana menimpa dirimu, ia akan meringankan kesusahanmu(membuat sesuatu untuk menghilangkan kesusahan itu)
10. Jika engkau berkata kepadanya, nescaya ia akan membenarkanmu
11. Jika engkau merancangkan sesuatu, nescaya ia akan membantumu
12. Jika kamu berdua berselisih faham, nescaya ia lebih senang mengalah untuk menjaga kepentingan persahabatan
petikan "Bimbingan Mu'minin" Imam Ghazali
2. Jika engkau rapatkan persahabatan dengannya, dia akan membalas baik persahabatanmu itu
3. Jika engkau perlukan pertolongan daripadanya berupa wang dan sebagainya ia akan membantumu
4. Jika engkau menghulurkan sesuatu kebaikan kepadanya, ia akan menerima dengan baik
5. Jika ia mendapat sesuatu kabajikan (bantuan) daripadamu, ia akan menghargai atau menyebut kebaikanmu
6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik daripadamu, ia akan menutupnya
7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan daripadanya, ia akan mengusahakannya
8. Jika engkau berdiam diri (kerana malu hendak meminta), ia akan menanyakan kesusahanmu
9. Jika datang sesuatu bencana menimpa dirimu, ia akan meringankan kesusahanmu(membuat sesuatu untuk menghilangkan kesusahan itu)
10. Jika engkau berkata kepadanya, nescaya ia akan membenarkanmu
11. Jika engkau merancangkan sesuatu, nescaya ia akan membantumu
12. Jika kamu berdua berselisih faham, nescaya ia lebih senang mengalah untuk menjaga kepentingan persahabatan
petikan "Bimbingan Mu'minin" Imam Ghazali
Thursday, March 4, 2010
PAHALA MEMBANTU TETANGGA DAN ANAK YATIM
Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji,tertidur di Masjidil Haram.Dia telah bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang lain, "Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?"
Jawab yang lain, "Enam ratus ribu."
Lalu ia bertanya lagi, "Berapa banyak yang diterima ?"
Jawabnya, "Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq."
Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu,maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke rumahnya.Dan ketika diketuknya pintunya,keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya.
Jawab orang itu, "Muwaffaq."
Lalu abdullah bin Mubarak bertanya padanya,"Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?"
Jawab Muwaffaq,"Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat kerana keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat wang tiga ratus diirham dari pekerjaanku membuat dan menampal sepatu,lalu aku berniat haji pada tahun ini sedang isteriku pula hamil, maka suatu hari dia tercium bau makanan dari rumah jiranku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah jiranku dan menyampaikan tujuan sebenarku kepada wanita jiranku itu.
Jawab jiranku, "Aku terpaksa membuka rahsiaku,sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan,kerana itu aku keluar mencari makanan untuk mereka.Tiba-tiba bertemulah aku dengan bangkai himar di suatu tempat,lalu aku potong sebahagiannya dan bawa pulang untuk masak,maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu."
Ketika aku mendegar jawapan itu,aku segera kembali ke rumah dan mengambil wang tiga ratus dirham dan keserahkan kepada jiranku tadi seraya menyuruhnya membelanjakan wang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam jagaannya itu.
"Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku." Kata Muwaffaq lagi.
Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahawa membantu jiran tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim.
Rasulullah ada ditanya, "Ya Rasullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga."
Jawab Rasulullah, "Jadilah kamu orang yang baik."
Orang itu bertanya lagi, "Ya Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahawa aku telah berbuat baik?"
Jawab Rasulullah, "Tanyakan pada tetanggamu,maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat,maka engkau sebenarnya jahat."
Jawab yang lain, "Enam ratus ribu."
Lalu ia bertanya lagi, "Berapa banyak yang diterima ?"
Jawabnya, "Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq."
Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu,maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke rumahnya.Dan ketika diketuknya pintunya,keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya.
Jawab orang itu, "Muwaffaq."
Lalu abdullah bin Mubarak bertanya padanya,"Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?"
Jawab Muwaffaq,"Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat kerana keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat wang tiga ratus diirham dari pekerjaanku membuat dan menampal sepatu,lalu aku berniat haji pada tahun ini sedang isteriku pula hamil, maka suatu hari dia tercium bau makanan dari rumah jiranku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah jiranku dan menyampaikan tujuan sebenarku kepada wanita jiranku itu.
Jawab jiranku, "Aku terpaksa membuka rahsiaku,sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan,kerana itu aku keluar mencari makanan untuk mereka.Tiba-tiba bertemulah aku dengan bangkai himar di suatu tempat,lalu aku potong sebahagiannya dan bawa pulang untuk masak,maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu."
Ketika aku mendegar jawapan itu,aku segera kembali ke rumah dan mengambil wang tiga ratus dirham dan keserahkan kepada jiranku tadi seraya menyuruhnya membelanjakan wang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam jagaannya itu.
"Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku." Kata Muwaffaq lagi.
Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahawa membantu jiran tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim.
Rasulullah ada ditanya, "Ya Rasullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga."
Jawab Rasulullah, "Jadilah kamu orang yang baik."
Orang itu bertanya lagi, "Ya Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahawa aku telah berbuat baik?"
Jawab Rasulullah, "Tanyakan pada tetanggamu,maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat,maka engkau sebenarnya jahat."
Asmaul Husna
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w berrsabda; "Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama,iaitu 100 kurang satu. Siapa yg menghafalnya akan masuk syurga." Sahih Bukhari.
1. Allah
2. Ar-Rahman - Maha Pemurah
3. Ar-Rahim - Maha Penyayang
4. Al-Malik - Maha Merajai/Pemerintah
5. Al-Quddus - Maha Suci
6. As-Salam - Maha Penyelamat
7. Al-Mu'min - Maha Pengaman
8. Al-Muhaymin - Maha Pelindung/Penjaga
9. Al-^Aziz - Maha Mulia/Perkasa
10. Al-Jabbar - Maha Pemaksa
11. Al-Mutakabbir - Maha Besar
12. Al-Khaliq - Maha Pencipta
13. Al-Bari' - Maha Perancang
14. Al-Musawwir - Maha Menjadikan Rupa Bentuk
15. Al-Ghaffar - Maha Pengampun
16. Al-Qahhar - Maha Menundukkan
17. Al-Wahhab - Maha Pemberi
18. Ar-Razzaq - Maha Pemberi Rezeki
19. Al-Fattah - Maha Pembuka
20. Al-^Alim - Maha Mengetahui
21. Al-Qabid - Maha Penyempit Hidup
22. Al-Basit - Maha Pelapang Hidup
23. Al-Khafid - Maha Penghina
24. Ar-Rafi^ - Maha Tinggi
25. Al-Mu^iz - Maha Pemberi Kemuliaan/Kemenangan
26. Al-Muthil - Maha Merendahkan
27. As-Sami^ - Maha Mendengar
28. Al-Basir - Maha Melihat
29. Al-Hakam - Maha Menghukum
30. Al-^Adl - Maha Adil
31. Al-Latif - Maha Halusi
32. Al-Khabir - Maha Waspada
33. Al-Halim - Maha Penyantun
34. Al-^Azim - Maha Agong
35. Al-Ghafur - Maha Pengampun
36. Ash-Shakur - Maha Pengampun
37. Al-^Aliyy - Maha Tinggi Martabat-Nya
38. Al-Kabir - Maha Besar
39. Al-Hafiz - Maha Pelindung
40. Al-Muqit - Maha Pemberi Keperluan
41. Al-Hasib - Maha Mencukupi
42. Aj-Jalil - Maha Luhur
43. Al-Karim - Maha Mulia
44. Ar-Raqib - Maha Pengawas
45. Al-Mujib - Maha Mengabulkan
46. Al-Wasi^ - Maha Luas Pemberian-Nya
47. Al-Hakim - Maha Bijaksana
48. Al-Wadud - Maha Pencinta
49. Al-Majid - Maha Mulia
50. Al-Ba^ith - Maha Membangkitkan
51. Ash-Shahid - Maha Menyaksikan
52. Al-Haqq - Maha Benar
53. Al-Wakil - Maha Berserah
54. Al-Qawiyy - Maha Memiliki Kekuatan
55. Al-Matin - Maha Sempurna Kekuatan-Nya
56. Al-Waliyy - Maha Melindingi
57. Al-Hamid - Maha Terpuji
58. Al-Muhsi - Maha Menghitung
59. Al-Mubdi' - Maha Memulai/Pemula
60. Al-Mu^id - Maha Mengembalikan
61. Al-Muhyi - Maha Menghidupkan
62. Al-Mumit - Maha Mematikan
63. Al-Hayy - Maha Hidup
64. Al-Qayyum - Maha Berdiri Dengan Sendiri-Nya
65. Al-Wajid - Maha Menemukan
66. Al-Majid - Maha Mulia
67. Al-Wahid - Maha Esa
68. As-Samad - Maha Diminta
69. Al-Qadir - Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir - Maha Menentukan
71. Al-Muqaddim - Maha Mendahulukan
72. Al-Mu'akhkhir - Maha Melambat-lambatkan
73. Al-'Awwal - Maha Pemulaan
74. Al-'Akhir - Maha Penghabisan
75. Az-Zahir - Maha Menyatakan
76. Al-Batin - Maha Tersembunyi
77. Al-Wali - Maha Menguasai Urusan
78. Al-Muta^ali - Maha Suci/Tinggi
79. Al-Barr - Maha Bagus (Sumber Segala Kelebihan)
80. At-Tawwab - Maha Penerima Taubat
81. Al-Muntaqim - Maha Penyiksa
82. Al-^Afuww - Maha Pemaaf
83. Ar-Ra'uf - Maha Mengasihi
84. Malik Al-Mulk - Maha Pemilik Kekuasaan
85. Thul-Jalali wal-Ikram - Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit - Maha Mengadili
87. Aj-Jami^ - Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghaniyy - Maha Kaya Raya
89. Al-Mughni - Maha Penberi Kekayaan
90. Al-Mani^ - Maha Membela/Menolak
91. Ad-Darr - Maha Pembuat Bahaya
92. An-Nafi^ - Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nur - Maha Pemberi Cahaya
94. Al-Hadi - Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badi^ - Maha Indah/Tiada Bandingan
96. Al-Baqi - Maha Kekal
97. Al-Warith - Maha Membahagi/Mewarisi
98. Ar-Rashid - Maha Pandai/Bijaksana
99. As-Sabur - Maha Penyabar
1. Allah
2. Ar-Rahman - Maha Pemurah
3. Ar-Rahim - Maha Penyayang
4. Al-Malik - Maha Merajai/Pemerintah
5. Al-Quddus - Maha Suci
6. As-Salam - Maha Penyelamat
7. Al-Mu'min - Maha Pengaman
8. Al-Muhaymin - Maha Pelindung/Penjaga
9. Al-^Aziz - Maha Mulia/Perkasa
10. Al-Jabbar - Maha Pemaksa
11. Al-Mutakabbir - Maha Besar
12. Al-Khaliq - Maha Pencipta
13. Al-Bari' - Maha Perancang
14. Al-Musawwir - Maha Menjadikan Rupa Bentuk
15. Al-Ghaffar - Maha Pengampun
16. Al-Qahhar - Maha Menundukkan
17. Al-Wahhab - Maha Pemberi
18. Ar-Razzaq - Maha Pemberi Rezeki
19. Al-Fattah - Maha Pembuka
20. Al-^Alim - Maha Mengetahui
21. Al-Qabid - Maha Penyempit Hidup
22. Al-Basit - Maha Pelapang Hidup
23. Al-Khafid - Maha Penghina
24. Ar-Rafi^ - Maha Tinggi
25. Al-Mu^iz - Maha Pemberi Kemuliaan/Kemenangan
26. Al-Muthil - Maha Merendahkan
27. As-Sami^ - Maha Mendengar
28. Al-Basir - Maha Melihat
29. Al-Hakam - Maha Menghukum
30. Al-^Adl - Maha Adil
31. Al-Latif - Maha Halusi
32. Al-Khabir - Maha Waspada
33. Al-Halim - Maha Penyantun
34. Al-^Azim - Maha Agong
35. Al-Ghafur - Maha Pengampun
36. Ash-Shakur - Maha Pengampun
37. Al-^Aliyy - Maha Tinggi Martabat-Nya
38. Al-Kabir - Maha Besar
39. Al-Hafiz - Maha Pelindung
40. Al-Muqit - Maha Pemberi Keperluan
41. Al-Hasib - Maha Mencukupi
42. Aj-Jalil - Maha Luhur
43. Al-Karim - Maha Mulia
44. Ar-Raqib - Maha Pengawas
45. Al-Mujib - Maha Mengabulkan
46. Al-Wasi^ - Maha Luas Pemberian-Nya
47. Al-Hakim - Maha Bijaksana
48. Al-Wadud - Maha Pencinta
49. Al-Majid - Maha Mulia
50. Al-Ba^ith - Maha Membangkitkan
51. Ash-Shahid - Maha Menyaksikan
52. Al-Haqq - Maha Benar
53. Al-Wakil - Maha Berserah
54. Al-Qawiyy - Maha Memiliki Kekuatan
55. Al-Matin - Maha Sempurna Kekuatan-Nya
56. Al-Waliyy - Maha Melindingi
57. Al-Hamid - Maha Terpuji
58. Al-Muhsi - Maha Menghitung
59. Al-Mubdi' - Maha Memulai/Pemula
60. Al-Mu^id - Maha Mengembalikan
61. Al-Muhyi - Maha Menghidupkan
62. Al-Mumit - Maha Mematikan
63. Al-Hayy - Maha Hidup
64. Al-Qayyum - Maha Berdiri Dengan Sendiri-Nya
65. Al-Wajid - Maha Menemukan
66. Al-Majid - Maha Mulia
67. Al-Wahid - Maha Esa
68. As-Samad - Maha Diminta
69. Al-Qadir - Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir - Maha Menentukan
71. Al-Muqaddim - Maha Mendahulukan
72. Al-Mu'akhkhir - Maha Melambat-lambatkan
73. Al-'Awwal - Maha Pemulaan
74. Al-'Akhir - Maha Penghabisan
75. Az-Zahir - Maha Menyatakan
76. Al-Batin - Maha Tersembunyi
77. Al-Wali - Maha Menguasai Urusan
78. Al-Muta^ali - Maha Suci/Tinggi
79. Al-Barr - Maha Bagus (Sumber Segala Kelebihan)
80. At-Tawwab - Maha Penerima Taubat
81. Al-Muntaqim - Maha Penyiksa
82. Al-^Afuww - Maha Pemaaf
83. Ar-Ra'uf - Maha Mengasihi
84. Malik Al-Mulk - Maha Pemilik Kekuasaan
85. Thul-Jalali wal-Ikram - Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit - Maha Mengadili
87. Aj-Jami^ - Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghaniyy - Maha Kaya Raya
89. Al-Mughni - Maha Penberi Kekayaan
90. Al-Mani^ - Maha Membela/Menolak
91. Ad-Darr - Maha Pembuat Bahaya
92. An-Nafi^ - Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nur - Maha Pemberi Cahaya
94. Al-Hadi - Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badi^ - Maha Indah/Tiada Bandingan
96. Al-Baqi - Maha Kekal
97. Al-Warith - Maha Membahagi/Mewarisi
98. Ar-Rashid - Maha Pandai/Bijaksana
99. As-Sabur - Maha Penyabar
Wednesday, March 3, 2010
KESESATAN YAHUDI DAN NASRANI (DALAM ALQURAN)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 120
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 62
Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (QS. 5:62)
Al Quran : (7) Al A’raaf : Ayat 167
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 7:167)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 51
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 111
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. 2:111)
Al Quran : (59) Al Hasyr : Ayat 15
(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. 59:15)
Al Quran : (2) Al Baqarah 113
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2:113)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 135
Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS. 2:135)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 144
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:144)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 145
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim. (QS. 2:145)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 146
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 18
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS. 5:18)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 41
Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah] perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. 5:41)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 42
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. 5:42)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 61
Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. 5:61)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 64
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. 5:64)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 78
Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. 5:78)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 183
(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api”. Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. 3:183)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 118
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. 3:118)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 67
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS. 3:67)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 23
Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (QS. 3:23)
Al Quran : (16) An Nahl : Ayat 118
Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 16:118)
Al Quran : (4) An Nisaa’ : Ayat 153
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (QS. 4:153)
Al Quran : (4) An Nisaa’ : Ayat 160
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. 4:160)
Al Quran : (4) An Nisaa’ : Ayat 46
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4:46)
Al Quran : (13) Ar Ra’d : Ayat 36
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (QS. 13:36)
Al Quran : (9) At Taubah : Ayat 30
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. 9:30)
Al Quran : (9) At Taubah : Ayat 34
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. 9:34)
Al Quran : (47) Muhammad : Ayat 26
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (QS. 47:26)
Al Quran : (10) Yunus : Ayat 68
Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. 10:68)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 62
Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (QS. 5:62)
Al Quran : (7) Al A’raaf : Ayat 167
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 7:167)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 51
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 111
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. 2:111)
Al Quran : (59) Al Hasyr : Ayat 15
(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. 59:15)
Al Quran : (2) Al Baqarah 113
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2:113)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 135
Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS. 2:135)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 144
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:144)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 145
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim. (QS. 2:145)
Al Quran : (2) Al Baqarah : Ayat 146
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 18
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS. 5:18)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 41
Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah] perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. 5:41)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 42
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. 5:42)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 61
Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. 5:61)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 64
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. 5:64)
Al Quran : (5) Al Maa’idah : Ayat 78
Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. 5:78)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 183
(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api”. Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. 3:183)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 118
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. 3:118)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 67
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS. 3:67)
Al Quran : (3) Ali ‘Imraan : Ayat 23
Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (QS. 3:23)
Al Quran : (16) An Nahl : Ayat 118
Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 16:118)
Al Quran : (4) An Nisaa’ : Ayat 153
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (QS. 4:153)
Al Quran : (4) An Nisaa’ : Ayat 160
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. 4:160)
Al Quran : (4) An Nisaa’ : Ayat 46
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4:46)
Al Quran : (13) Ar Ra’d : Ayat 36
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (QS. 13:36)
Al Quran : (9) At Taubah : Ayat 30
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. 9:30)
Al Quran : (9) At Taubah : Ayat 34
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. 9:34)
Al Quran : (47) Muhammad : Ayat 26
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (QS. 47:26)
Al Quran : (10) Yunus : Ayat 68
Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. 10:68)
Tuesday, March 2, 2010
Jibril AS, Kerbau, Kelawar, dan Cacing
Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau.Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai.Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau".Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri".Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar,"hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing,"Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing". Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah,aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing,dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia.Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal soleh ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai.Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau".Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri".Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar,"hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing,"Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing". Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah,aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing,dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia.Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal soleh ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".
PADA YANG LUPA NIKMAT ALLAH
Dan apabila manusia disentuh oleh sesuatu bahaya, ia segera berdoa kepada Tuhannya dengan keadaan rujuk kembali bertaubat kepadaNya; kemudian apabila Allah memberikannya sesuatu nikmat (sebagai kurnia) daripadaNya, lupalah ia akan segala bahaya yang menyebabkannya merayu kepada Allah sebelum itu dan ia pula menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah,untuk menyesatkan dirinya (dan orang lain) dari jalan Allah. Katakanlah (kepadanya): "Bersenang-senanglah engkau dengan kekufuranmu itu bagi sementara, sesungguhnya engkau dari penduduk neraka. Surah Az-Zumar:8
BAIK DIAM
Pada satu ketika, ada sekumpulan pendakwah Ikhwan Muslimun sedang berbual-bual.Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyebut sesuatu yang memburukkan sahabat mereka. Maka seorang rakannya berkata: "wahai sahabatku, pernahkah engkau berperang di medan jihad(sekian) dan (sekian) ". Jawabnya: "Belum ". Tanyanya lagi: "Pernahkah pula engkau berperang di medan jihad (sekian) dan (sekian)". Jawabnya lagi: "Belum". Maka kata rakannya lagi: "wahai sahabatku, engkau belum pernah pun melukai seorang kafir, tetapi engkau telah pun melukai seorang muslim".
Dan Imam Malik Rahimahullah telah berkata :"Manusia ini tidak ma'sum(tidak terpelihara dari buat kesalahan)kecuali para Rasul dan Nabi.Setiap percakapan/kalam manusia diambil dan ditinggalkan melainkan penghuni kubur ini(Nabi Muhammad s.a.w).
Dan Imam Malik Rahimahullah telah berkata :"Manusia ini tidak ma'sum(tidak terpelihara dari buat kesalahan)kecuali para Rasul dan Nabi.Setiap percakapan/kalam manusia diambil dan ditinggalkan melainkan penghuni kubur ini(Nabi Muhammad s.a.w).
Monday, March 1, 2010
Az-Zalzalah
[1]
Apabila bumi digegarkan dengan gegaran yang sedahsyat-dahsyatnya,
[2]
Serta bumi itu mengeluarkan segala isinya,
[3]
Dan berkatalah manusia (dengan perasaan gerun); "Apa yang sudah terjadi kepada bumi?"
[4]
Pada hari itu bumipun menceritakan khabar beritanya:
[5]
Bahawa Tuhanmu telah memerintahnya (berlaku demikian).
[6]
Pada hari itu manusia akan keluar berselerak (dari kubur masing-masing) - untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) amal-amal mereka.
[7]
Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah,nescaya akan dilihatnya(dalam surat amalnya)!
[8]
Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya(dalam surat amalnya)!
Apabila bumi digegarkan dengan gegaran yang sedahsyat-dahsyatnya,
[2]
Serta bumi itu mengeluarkan segala isinya,
[3]
Dan berkatalah manusia (dengan perasaan gerun); "Apa yang sudah terjadi kepada bumi?"
[4]
Pada hari itu bumipun menceritakan khabar beritanya:
[5]
Bahawa Tuhanmu telah memerintahnya (berlaku demikian).
[6]
Pada hari itu manusia akan keluar berselerak (dari kubur masing-masing) - untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) amal-amal mereka.
[7]
Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah,nescaya akan dilihatnya(dalam surat amalnya)!
[8]
Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya(dalam surat amalnya)!
Subscribe to:
Posts (Atom)






